Minggu, 16 September 2012

Perjalanan Hidup di Jakarta

Sebuah pengalaman yang sampai saat ini tak bisa terlupakan, sampai ahirnya saya tuangkan dalam buku kecil sahabat tidurku. Pengalaman ini terjadi pada tahun 2008.

Nama saya Sultan Faranaza, biasa dipanggil Kuda. Saya orang jawa tulen, kota saya Tegal. Tapi hidup saya di rantauan, sejak lulus SMP tahun 2006 saya langsung merantau.

Al-kisah waktu saya kerja di Jakarta. Waktu itu usia saya masih 18+. Sebelumnya saya sudah pernah bekerja di Kota Besar di Bekasi selama 2 tahun. Saya bekerja di sebuah pembangunan perumahan alias proyek, saya di bagian pengecatan. Namanya saja proyek pasti sudah tau bagaimana ciri khas orang proyek. Warna kulit saya dulunya putih sekarang cokelat, tinggi badan saya sekitar 155cm. Tinggi yang terlalu minim untuk anak seusiaku, namun tampang saya terbilang awet muda. Karena wajah saya masih kaya anak-anak, gak sebanding dengan usia saya. Itulah gambaran tentang saya. Selama 2 tahun saya lakoni pekerjaan itu sampai bisa mengecat dengan baik dan benar.

Suatu hari saya di panggil kaka ipar saya untuk bekerja di tempatnya. Tidak tau kerja apa saya langsung iya aja jawabnya. Yang penting kerja.

Angin bertiup kencang, rasa dingin menghantam ke tulang-tulang. Saat waktu mulai pagi, saat itu pukul 4 dini hari saya sampai di Jakarta, setelah semalaman di dalam Bus antar Propinsi. Rasa kantuk terus hinggap di mataku, namun hidangan teh panas yang disediakan oleh kaka saya menghapuskan lelah kantuk saya, dengan suguhan penganan yang saya bawa dari Tegal, oleh-oleh dari ibu untuk kaka saya membuat saya mampu menahan kantuk. Sembari menunggu pagi kami ngobrol-ngobrol tentang pengalaman-pengalaman mereka. Di kontrakan bukan hanya kaka saya, tapi ada adik dari kaka ipar saya, sebut saja Riki (samaran) ada juga satu lagi Jeki (samaran) teman kaka saya. Karena mereka baru saya kenali, maka saya belum bisa menyesuaikan diri. Saya ini pendiam dan pemalu, jadi kalau mereka tanya-tanya yah saya hanya senyum, dan ngomong pun lirih banget.

Ternyata si Jaki punya kerjaan di luaran sana, dia punya job sendiri diluar kerjaanya yang tidak bisa ditangani sendiri. Ahirnya saya disuruh untuk mengerjakanya bersama si Riki.

Saya dan Riki berangkat berdua ke lokasi, tepatnya di sebuah gedung besar di Jakarta, yaitu Apartement Kuningan Place. Yah sebuah gedung yang menjadi sejarah penting saya di Jakarta. Saya dan Riki masuk berdua, menuju keatas karena lokasi kerjaan ada di lantai 21. "Wah indah sekali pemandangan kota Jakarta dari atas gedung, tak kusangka saya bisa melihat Jakarta dari atas" begitu gumam saya dalam hati, ketika saya melirik dari arah jendela sebuah kamar tempat saya kerja nanti. Riki ternyata tidak bisa kerja, dia punya kerjaan sendiri jadi dia hanya bisa kerja di hari libur. Dan dia hanya antar jemput saya tiap hari.

Waktu terus jalan, Riki pun keluar dan saya pun sudah mulai bekerja seperti apa yang ditugaskanya, tanpa ada masalah sampai sore Riki datang untuk menjemput saya dan pulang bareng ke kontrakan.

Keesokan harinya, seperti biasa saya dan Riki berangkat berdua, lumayan jauh juga karena kontrakan tempat saya berada di Kota Kembangan Jakarta Barat. Butuh waktu sekitar 1 jam lebih dengan Motor jika jalanan tidak macet. Keadaan pun seperti biasa, setelah sampai di Apartement Riki hanya mengantar sekaligus mengecek kerjaan saya. Setelahnya dia keluar lagi untuk kerja di tempatnya sendiri. Tanpa basa-basi saya langsung siaga bekerja. Sampai sore tiba saya sudah siap beres-beres untuk pulang. Tapi Riki agak terlambat, saya keluar untuk sekedar ngopi dan ngerokok sambil menunggu Riki datang. Tidak berpikir macam-macam saya tetap saja menikmati kopi saya. Sampai hari mulai menunjukan petang rasa cemas mulai menghantam perasaan. "Kemana si Riki yah, ko gak dateng-dateng" gumamku. Tepat jam 6 sore Riki tidak datang juga, saya pun berjalan sedikit memperhatikan setiap motor yang lewat berharap Riki ada disini. Namun semakin jauh saya melangkah tak pula kulihat ada tanda-tanda kedatanganya.

Dengan langkah putus asa, saya terus melangkah semakin jauh dan jauh namun saya tetap berharap mata saya akan segera melihat sosok Riki dijalan.

Langkah demi langkah, terus saya telusuri jalanan tanpa tau arah kemana yang harus saya tuju. Waktu pun semakin menunjukan malam, keadaan jalanan mulai sunyi. Sudah tak nampak lagi adanya kehidupan, kecuali terkadang adanya mobil yang sesekali lewat. Hati kesal bercampur sesal, pada sosok bernama Riki. Entah kenapa hanya dia yang saya pikirkan, saat itupun dia menjadi orang pertama yang saya cari-cari sekaligus orang yang paling saya benci. "Seandainya dia datang tepat waktu, seandainya saya masih sabar menunggu". Sesal dan kesal terus berkecamuk dalam pikiran mengiringi derap langkah saya yang semakin berat itu. Tiada henti langkah saya tiada henti pula pikiran saya menggerogoti penyesalan. Sampai pada puncak lelahnya saya pun berhenti sejenak pada sebuah halte bus yang sudah tak ada seorangpun disitu.

Sekitar pukul 2 dini hari saya duduk seorang diri. Sampai saya pun ahirnya tertidur di halte tersebut. Dan terbangun kembali jam 5 subuh karena suara mobil yang mulai meramaikan jalanan. "Yah ini bukanlah mimpi, ini benar-benar terjadi" sesalku saat tersadar saya seorang diri. Saya bergegas kembali menyusuri jalanan nan sepi ini, dengan langkah lusuh penuh peluh dan hati yang terus menjerit seakan tak mempercayai akan terjadi hal seperti ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hari mulai terang saat saya tetap berjalan di sudut aspal jalan. Hujan turun dengan lebatnya, dan saya terus berjalan dan berjalan tanpa menghiraukan rasa dingin yang menerpa saya, sampai saya menemukan sebuah halte di samping jalan dan berteduh sejenak dengan baju yang basah. Saya pun tertidur lagi di halte tersebut. Ketika saya terbangun hujan sudah mulai reda, saya segera melanjutkan perjalanan jauh itu. Melihat kanan kiri tiada yang peduli keadaan saya. Yah mungkin tiada yang tau apa yang saya alami.

Jauh semakin jauh, lelah semakin lelah tapi semua terjawab saat saya mulai mengenali jalan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. "Yah inilah jalan menuju pulang" dengan girang saya terus berjalan semakin cepat semakin cepat dan cepat, tak jarang saya berlari sekedar mempersingkat waktu.

Dan ahirnya saya pun sampai pada tujuan saya, kontrakan yang saya tempati. Sekitar pukul 11 siang saya sampai ke kontrakan. Rasa lelah semakin memaksa saya segera cepat-cepat beristirahat, dengan mata yang masih mengantuk yang semakin menjadi-jadi. Saya ketuk pintu, saat itu juga. Namun tak ada sahutan dari dalam. Perasaan saya gak enak banget, saya ketuk lagi dan tetap tak ada jawaban. Saya hanya melamun di teras depan kontrakan memikirkan nasib naas ini. Dalam lamunan terdengar suara Adzan berkumandang, saya pun putuskan pergi ke Masjid untuk shalat. Sehabis shalat dluhur saya tertidur di Masjid tersebut sampai sore hari. Dengan kaget saya dibangunkan seorang lelaki tua di Masjid. Saya segera ambil wudlu dan shalat Ashar. Sehabis Shalat saya segera kembali ke kontrakan dengan semangatnya. Namun kontrakan masih saja sepi. Tak terlihat adanya seorangpun didalamnya saat ku intip dari jendela yang tertutup tirai gordyn yang sedikit terbuka. Saya tetap duduk didepan teras, menunggu sampai semua orang kontrakan pulang dari kerjanya. Sampai pukul 7 malam baru mulai kelihatan si Jeki, disusul si Riki selang beberapa menit lalu kaka saya. Mereka semua kaget melihat saya duduk di teras. Dengan segera mereka membuka kunci dan masuk, di ikuti saya pun langsung masuk dan merebahkan tubuh saya di lantai beralaskan kasur lantai. Saya hanya diam, mereka saling tanya, "kemana saja kamu" namun saya tak angkat bicara. Mereka saling menunjukan kekhawatirannya masing-masing. Saya hanya bisa diam, dengan kekhawatiranya saja sudah cukup membuat saya senang. Sampai saya terharu sendiri melihat raut wajah mereka. Saking terharunya sampai-sampai saya meneteskan air mata. Karena malu takut ketahuan saya menangis, ahirnya saya pura-pura tidur. Dan malah tidur beneran dengan nyenyak. Keesokan harinya keadaan sudah kembali normal seperti biasanya. Saya pun melanjutkan kerja dengan Riki. Pergi berangkat berdua seperti biasa, pulang pun berdua seperti biasa. Riki pun semakin lebih memperhatikan saya.

"Malu Bertanya Sesat Dijalan" itulah bahasa yang tepat untuk saya waktu itu. Semenjak itu saya mulai mencoba mengurangi sikap pemalu dan pendiam saya. Itulah sepenggal pengalaman saya ketika pertama di Jakarta. Sebuah pengalaman yang takan terlupakan untuk saya.

Maafkan segala tulisan saya jika ada yang tak cocok atau tak mudah untuk dipahami.

Sampai jumpa lagi di Pengalaman saya yang lain.

By. Sultan Faranaza