"Tan, mau kopi gak?". Teriak Aril mengagetkannya yang sibuk dengan
kerjaanya. Aril adalah teman kerjanya di Sinar Mas. Meski bukan satu
grup tapi mereka akrab lantaran sering ketemu tiap hari. Dia selalu
datang tiba-tiba dan mengejutkan Sultan, sudah menjadi hobi baginya
bikin kaget orang.
Rambutnya lurus panjang. Dengan pita kupu-kupu menghiasi mahkota
kepalanya. Senyum itu membuat Sultan mengabaikan omongan Aril. Matanya
terpaku memandangi gadis pengantar kopi yang berjalan kearahnya.
"lo suka yah? Dia Yuli namanya". Ujar Aril melihat ekspresi Sultan
yang mengabaikanya lantaran melihat gadis pengantar kopi tersebut.
"Kopi........." teriak Aril, mengambil kopi yang ia pesan.
"Satu lagi yah! Buruan!" perintah Aril pada gadis tersebut.
"lo kenapa tan, diem aja daritadi. Gw ngomong dicuekin".
"gak apa-apa ko, cuma cape aja" jawab Sultan dengan nada datar seakan pandai berbohong.
Waktu dilihatnya sudah jam 3 sore, kopi pesenan sudah datang. Mereka menghabiskan jam kerjanya dengan leha-leha.
Masih penasaran dengan gadis kantin pengantar kopi bernama Yuli itu,
ia menjadi keseringan pesen kopi di kantin tersebut. Yang sebelumnya ia
sudah berlangganan di kantin yang lain.
Esok hari ia sengaja pesen kopi lebih awal dari Aril. Saat kopi tengah sampai, ia mencoba berkenalan dengan Yuli.
"Nama kamu siapa sih?" tanya Sultan saat Yuli memberikan kopi pesenanya.
"namaku Yuli, Yuli Puspita. Biasa dipanggil Pus". Jawabnya agak malu-malu.
"owh,, namaku Sultan. Tar siang juga anterin kopi lagi yah".
Perintahnya agar ia bertemu terus tiap hari. Sultan pandai mengatur
siasat. "oya ni duitnya".
"ya mas... Mas Sultan" ujarnya dengan nada ejekan. Dan berlalu.
Sultan kembali bekerja. Ia kini lebih semangat. Entah apa yang
merasukinya. Setelah mengenal Yuli, hari-harinya menjadi penuh drama.
Terkadang bernyanyi-nyanyi sendiri saat kerja, nampak kegembiraan
terpancar dari lantunan-lantunan lagu yang ia nyanyikan. Aril senang
melihat Sultan nampak makin akrab dengan Yuli.
Suatu malam Sultan berkunjung kerumah Aril, komplek Daan Mogot.
"Yuli gimana? Makin deket aja lo ma dia". Tanya Aril membuka ruang obrolan.
"lo juga keliatanya deket banget sama Tirah". Balasnya balik tanya.
"Eh ketempat Yuli sama Tirah yuk?" pinta Aril tanpa menjawab pertanyaannya.
"lo tau tempatnya dimana?"
"gw sering ketemuan sama Tirah. Ayo buruan".
Sultan dan Aril, mereka berdua pergi seketika itu. Menuju ke tempat
Yuli dan Tirah. Tidak jauh dari rumah Aril. Hanya berkisar 1km saja.
"aku tunggu di taman biasa yah. Buruan". Suara Aril ditelepon genggam Tirah. Sambil
menutup telpon Aril dan Sultan menuju ke taman tersebut. Tempat biasa
Aril dan Tirah janjian.
Tak lama mereka datang. Tirah dan Yuli menghampirinya. Sembari berjabat tangan. Sultan mengajak Yuli menjauh dari mereka berdua.
"kesana yu, agak jauhan dikit". Ajak Sultan sembari menggandeng tangan Yuli tanpa malu-malu.
"mau ngapain? Disini aja kenapa sih" jawabnya dengan berusaha menolak permintaan Sultan itu.
"udah ikut aja, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu"
mereka berjalan. Menjauh dari posisi Aril dan Tirah. Mencari tempat yang lebih nyaman disekitar taman mereka berjumpa.
"mpuuz" panggilnya mesra penuh cinta. Sultan tak pernah memanggil ia Yuli. Namun ia lebih nyaman dengan menyebutnya Mpuuz.
"ada apa?"
"aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacar aku"
Yuli tak menyangka Sultan akan menyatakan cinta padanya. Ia memang
tau perhatian Sultan lebih condong padanya dibanding teman-teman lainya.
Yuli diam. Beberapa menit terdiam.
"aku gak bisa jawab sekarang".
"kenapa?"
"kamu gak tau siapa aku. Kita baru kenal sepekan ini gak mungkin
kamu semudah itu nyatain cinta". Matanya berbinar, hampir ia menangis.
Entah itu tangis bahagia atau tangis kesedihan.
"kita memang baru kenal. Tapi aku sayang sama kamu. Semenjak
pertemuan itu. Semua pertemuan berikutnya hingga sekarang, menjadi
pertemuan yang bermakna bagiku. Aku sadar, aku membutuhkanmu. . . Karna
aku mencintaimu".
"aku sudah punya tunangan di kampung. Sesungguhnya aku juga memiliki rasa yang sama padamu. Tapi aku tak bisa melakukan itu. Aku sudah
punya tunangan dan dia adalah abangnya mba Tirah". Ia
menjelaskan semuanya. Matanya tak dapat membendung air
matanya.
"tapi aku sayang sama kamu
Mpuuz, aku gak peduli kamu telah
bertunangan". Sultan memberi
kepastian padanya. Berharap Yuli
mau menerima cintanya.
"aku bingung. Okelah aku terima
tapi dengan satu syarat".
Jawabnya dengan terisak-isak.
"apapun syaratnya, aku terima"
jawab Sultan meyakinkanya.
"jangan pernah kehilangan jika
aku kembali ke orang yang lebih
dulu mengikat jariku dengan
cincin, karena suatu saat kita pasti
berpisah".
"baik. Akan kucoba" tegas sultan.
Meski tau Sultan tak akan sanggup
kehilangan Mpuuz. Namun terpaksa ia
menyanggupi syarat itu. Dengan
harapan takan pernah ada kehilangan itu terjadi.
Sultan memeluknya. Dengan
memejamkan matanya. Hatinya
berbunga-bunga riang gembira.
Seketika itu dalam pelukan.
Jam tangan diliriknya. Waktu mulai
nampak malam. Mereka
menghampiri Aril dan Tirah yang
sedari tadi ia tinggalkan.
Setelah berpamitan mesra Aril dan
Sultan pun pulang kerumah
masing-masing.
Dijalan Sultan terus memikirkan
Mpuuz. Betapa bahagia dia saat
itu. Memiliki kekasih yang sangat
ia cintai. Lamunannya tak ubah-ubahnya
hanya tentang Yuli. Gadis yang ia
panggil Mpuuz.
Tit. . . Tit. . . Handphone'nya
berdering tanda sms masuk.
"kuda, hati-hati dijalan yah". Satu
pesan singkat dari Yuli dengan sapaan mesranya. Ia tersenyum.
Dalam hati ia terus memuji-muji
Yuli, kekasih barunya itu.
Esok hari sejak malam itu. Ia
semakin rajin pesen kopi, demi
sekedar melihat wajah ayu dari
sosok dengan sebutan Mpuuz itu.
Tak jarang ia suka kelupaan, sudah
pesen entar pesen lagi.
Malam itu ia mampir ke Mall
mencari sesuatu untuk Mpuuz. Yah
boneka kuda adalah incaran utamanya. Sesuai sapaan akrab
Mpuuz, dengan memanggil Sultan
dengan sebutan Kuda.
Kesana-kemari semua toko
boneka dihampirinya. Nampaknya
ia kesulitan mencari kado spesial
untuk kekasihnya itu. Tak ada
satupun boneka Kuda yang
nampak di penglihatanya.
Ia melihat satu boneka yang
bukan incaranya, namun cukup menarik perhatiannya.
Boneka Kucing dengan warna
putih hitam kuning. Ukuran yang
sama persis dengan kucing
sungguhan. Dengan bulu-bulu
halus tertata rapi bak bulu kucing
peliharaan.
Ia menjadikan boneka kucing tersebut sebagai
pilihan keduanya, disela kebingungannya. Boneka kucing
itu sama menariknya dari boneka
kuda incaranya. Sesuai panggilan
mesranya "Mpuuz". Iamempersembahkan ya untuk si
Yuli.
Keesokan harinya ia dipindahkan
kerja. Ia ditugaskan untuk kerja di
Pulogadung untuk beberapa hari.
Kado yang ia siapkan, yang belum
sempet ia kasihkan. Ia titipkan
sama temennya Sabar yang masih
bekerja di situ. Untuk
memberikanya kepada gadis
pengantar kopi.
Sengaja ia memesan kopi. Padahal
ia di Pulogadung kala itu. Tapi ia
memesankan kopi untuk temenya Sabar.
Sudah ia rencanakan matang-matang. Dalam keadaan seperti itu
ia mampu berpikir jernih.
"halo" Sapa Sultan dari kejauhan
sana di telepon genggam Sabar.
"tadi aku pesen kopi, tar kalo tukang kopinya datang tolong kasihkan
kado yang ada di tas gw ke dia
yah. Itu kopi kamu minum aja.
Udah gw bayar tadi pagi sebelum
pergi".
"oke wa, tenang aja. Thanks ya wa
kopinya". Jawab Sabar yang sudah
tau akal Sultan dengan
meyakinkan.
Beberapa menit setelah telpon
berahir. Yuli datang menemui
Sabar.
***
"kopinya mas"
"oke mba, makasih. Nih titipan dari
Sultan". Sambil menyerahkan
kadonya.
Yuli segera turun. Kembali ke
kantin tempat ia bekerja. Dengan
buru-buru ia melangkah. Sesegera
mungkin ia ingin membukanya.
Dilihatnya boneka Kucing dari
dalam dus berbusana kertas hias yang
ia buka. Dengan selembar Surat
yang tertulis beberapa kalimat.
Bertanda tangankan Sultan Kuda.
***
Harap-harap cemas di benak
Sultan. Terus memikirkan Mpuuz
nan jauh disana. Keresahan
melanda detik-detik waktunya di
Pulogadung.
Tit. . .tit. . . .
"makasih yah Kuda Bonekanya".
Ucapan terimakasih telah sampai
di HP'nya. Tanda kado telah
sampai di tangan Yuli.
Dua hari di Pulogadung ia merasa
dua tahun lamanya tak jumpa
dengan Mpuuz.
Sultan kembali ke Roxy Square.
Tugasnya di Pulogadung telah
usai. Rasa rindu sudah mencapai
di puncak ubun-ubunnya.
Segeranya ia menemui Mpuuz di
kantin. Untuk mengobati
kangenya akan senyum manis
manja pujaan hatinya itu.
Baru sehari di melepas Rindu. Ia
kembali di tugaskan untuk kerja
diluar lagi. Kali ini di Daan Mogot.
Agak dekat dari tempat tinggal
Mpuuz.
Beberapa hari kerja dengan beban
rindu yang tak tertahankan. Ia
mendapati kabar Yuli tak lagi
bekerja di kantin Roxy Square.
Mendapati kabar Yuli akan kembali
ke kampung halamanya di
Lampung.
***
"Kuda, malam ini aku mau pulang
kampung, travelnya akan jemput
jam 8 malam". Mendengar kabar
Mpuuz dikejauhan sana di telepon.
Membuat Sultan jatuh bangun
mencari jalan. Agar bisa
menemuinya di sisa-sisa
waktunya.
Jam 7 malam dilihatnya di tangan.
Ia nekat pergi dari tempat ia kerja.
Demi menemui sang kekasih hati.
Resah dan gelisah terus
berkumandang hebat di relung
hatinya selama perjalanan menuju
taman Tapak Siring tempat
dimana ia mengungkapkan
cintanya.
Tak bosan-bosanya ia mengirim
pesan singkat untuk Yuli. Bahwa
ia akan datang secepatnya.
Berharap Yuli menunggunya di
Taman tersebut.
"30 menit lagi Saya bakal
terlambat". Ia lari sekencengnya.
Jalan menuju taman agak jauh dari
jalur angkutan umum. Yang
memaksa ia harus berjalan lagi
untuk ke taman. Tanpa kenal lelah
berlari tiada henti. Sampai tiba di
taman ia baru berhenti.
Dikirimnya pesan singkat bahwa
ia telah sampai.
"Mpuuz. . . Kuda sudah di taman.
Mpuuz buruan kesini". Begitu
pesanya.
Beberapa menit kemudian Yuli
datang seorang diri. Dengan
membawa Meong kado darinya.
Berjalan kearahnya.
Nampak raut wajahnya tersirat
kesedihan yang mendalam.
"Mpuuz kenapa? Kaya habis
nangis!" tanyanya penuh
perhatian.
"aku takut kuda,, aku takut kita
gak jumpa lagi". Jawabnya seraya
mencurahkan kegalauanya.
"kenapa Mpuuz harus pulang sih?
Kenapa dengan pekerjaan disini,
kenapa berhenti?" Ia mencoba
menenangkanya.
"gak tau, bosnya udah menutup
kantin. Ya mau gak mau Mpuuz
gak punya kerjaan lagi, dan harus
pulang. Mba Tirah juga".
"terus hubungan kita gimana?
Maafin kuda, kuda gak bisa
menyanggupi syarat yang dulu
Mpuuz kasihkan. Ini terlalu cepat.
Kuda terlalu sayang sama Mpuuz."
"kuda janjikan. Akan memenuhi syarat
itu. Kenapa sekarang bilang gak
bisa? Ini sudah takdir kita Kuda. Kalau
toh kita jodoh pasti akan bertemu
kembali".
"kuda gak bisa kehilangan Mpuuz.
Mpuuz jangan pergi, kuda akan
carikan pekerjaan buat Mpuuz,
mba Tirah juga. Kuda janji. Please
Mpuuz jangan pergi".
"maaf kuda, Mpuuz gak bisa lagi.
Dan mulai sekarang hubungan kita
juga harus berahir sampai disini. Mpuuz
harus kembali ke Yuli yang dulu.
Yuli sudah punya tunangan di
kampung. Mpuuz gak bisa terus-terusan begini".
Yuli pergi meninggalkan Sultan
sendirian. Sultan duduk sendirian
di taman. Tak dapat mengejarnya. Pikiranya seketika itu kacau tak
karuan. Pandanganya buram,
kepalanya semakin terasa pening.
Hanya terdiam. Tak menghiraukan
rumput-rumput kecil yang
menertawakanya. Perasaanya
hancur. Mendengar keputusan Yuli
bak tersambar petir disiang
bolong.
Tirah menghampirinya. Mencoba
menenangkanya. Tirah yang tau
calon kaka iparnya itu tengah
menjalin cinta dengan Sultan tak
membuat dia membenci Yuli dan
Sultan. Malahan mendukungnya.
"sudahlah Menyuul" tegurnya
mencoba menghibur, dengan
panggilan khas'nya. Ia selalu
memanggil Sultan dengan sebutan
"Menyuul" begitu juga Sultan
memanggil Tirah dengan sebutan
"Menyuul".
"mbak Yuli sebenernya sayang
banget sama kamu Nyuul. Tapi
mau gimana lagi. Seandainya saja dia
tak kenal dengan abangku dulu.
Seandainya saja dia gak ada hubungan
dengan abangku. Pasti takan begini endingnya. Menyul yang
sabar yah.... Badai pasti berlalu".
"makasih yah Nyuul. Kapan kita
semua bisa ketemu lagi? Kalian
pasti ke Jakarta lagi kan? Janji yah,
kalau kalian pasti ke Jakarta lagi".
Ujar Sultan dengan nada
memohon.
"iya, kalau ada kerjaan pasti ke
Jakarta ko".
Tirah pun pergi meninggalkan
Sultan sendirian.
Tatapanya kosong. Tanpa arah
dan tujuan.
Yuli mengirim pesan
singkat. "Kuda, selamat tinggal
yah. . . Mpuuz akan selalu
ngejagain Meongnya. Sampai ahir
hayat,, Meong dari Kuda bakal Mpuuz bawa kemanapun Mpuuz
pergi. Sebagai bukti cinta kita. Dan
bukti pengorbanan Kuda untuk
cinta ini".
Dilihatnya Bus Travel itu masih
terparkir. Sultan segera keluar
taman. Menunggu di gerbang
komplek. Bermaksud mencegat
bus itu untuk melihat Mpuuz
untuk yang terahir kalinya.
Bus itu melintas didepanya. Tidak
jauh bus itu berhenti. Yuli keluar
menghampiri Sultan.
"kuda,,, jangan menangis yah.
Sampai bertemu lagi suatu saat
nanti".
"Mpuuz......"
"ya Kuda, ada apa"
Dipeluknya erat-erat. Yuli tak
dapat mengelaknya. Ia
membiarkan kekasihnya
mencurahkan kesedihanya lewat
pelukan itu.
"woiii. . . . Buruan. . . . Udah malem
nih". Sela supir bus itu beserta pewnumpang lainya merusak
suasana romantis itu.
"kuda, nih foto Mpuuz. Simpan
baik-baik yah. Maafin Mpuuz,
mpuuz gak bisa ngasih apa-apa.
Semoga foto ini bermanfaat buat
kuda. I will always love you.
Forever".
"me to. Forever".
balasnya dengan mengecup kening Yuli.
Yuli kembali ke bus yang tengah
menunggunya. Ia terus
melambaikan tangan sampai
benar-benar tak terlihat lagi
olehnya di penghujung jalan.
Sultan pun melangkah lunglai
tanpa harapan. Tatapan matanya
kosong. Tak terarah jalanya.
Hampir saja sang pengendara
motor menyerempetnya. Namun
tak dipedulikanya.
Ia sadar, bahwa kehilangan itu
benar-benar terjadi. Setelah
sebelumya tak pernah menduga
bahwa perpisahan itu tak akan pernah terjadi.
Perpisahan itu membuat ia merasa
terpukul. Hari-harinya hanya
gelap. Tiada terang. Tiada bintag.
Tiada rembulan.
Hitam pekat menyelubungi semua
pikiranya.
Hampa. Berhari-hari berminggu-
minggu berbulan-bulan ia hanya
mengurung diri. Tiada lagi tawa di
bibirnya. Tiada lagi suara di
mulutnya.
Ia menghilang. Ia kabur dari
kerjaan. Mencoba menenangkan
diri di tempat kerja temanya di
Klender.
Semua orang mencarinya, sengaja
ia matikan nomer ponselnya.
Setelah beberapa hari di tempat
temenya. Ia memutuskan pulang
ke kampung halamannya.
Mencoba melupakan kenangan
tentang gadis pengantar kopi
yang tengah menghantuinya
setiap hari.
"selamanya kau akan ku cinta
Mpuuz. Selamanya kau akan ku
kenang. Meski cinta kita sangat
singkat. Tanpa episode, tanpa
jeda, tanpa space. Namun hanya
kaulah cinta terindahku".
Ia menuliskan sebuah surat pada
selebaran kertas yang ia lipat-lipat
menjadi sebuah pesawat kertas.
Saat bus yang mengantar ia
pulang itu mulai jalan. Ia
terbangkan pesawat kertasnya.
Dibiarkanya terbang melayang di udara bersama masa-masa indahnya dengan Yuli.
Dalam hatinya mencucapkan salam perpisahan.
"Selamat tinggal Jakarta. Selamat
tinggal Mpuuz.
Putri MeongKu
Kuda.
The End.
Karya Sultan Faranaza
Sabtu, 06 Oktober 2012
Dampak Facebook (Surosoti)
Situs jejaring
sosial Facebook adalah situs yang sangat populer. Semenjak akses gratis
via seluler itu diberlakukan. Facebook menjadi media komunikasi nomer
satu dikalangan pemuda-pemudi seluruh dunia.
Suro dan Soti, salah seorang pekerja di Proyek Bank Sinarmas di sekitar ITC Permata Hijau Jakarta Selatan. yang tengah kecanduan Situs nomer satu itu.
Suatu malam mereka ingin memanjakan hobi barunya itu di sebuah Warnet yang tak jauh dari tempat kerjanya itu.
Dengan asiknya mereka memandangi foto-foto gadis nakal, kadang image selebriti mereka pelototi. Dengan giatnya membaca status-status teman mayanya di Beranda. Tak jarang mereka iseng memberi komentar jail. Demi menambah suasana tambah seru di depan layar komputer.
Berjam-jam duduk terpaku di depan layar semu. Semakin larut terasa saat mata mulai mengantuk. Terpaksa mereka mengahiri aksi manja itu.
Sambil berbincang-bincang mereka menuju pulang. Berjalan santai di atas aspal dengan langkah lunglai.
Sembari ngobrol kesana-kemari. Jalanan yang semakin sepi mereka tidak peduli.
Sampai pada persimpangan jalan mereka berhenti. Dua pemuda berkendara motor tak dikenali tengah terlihat sedang memanggil dan mulai menghampiri.
"maaf mas. Kalian lihat ada pemuda yang lewat sekitar sini gak?" tanya pemuda asing itu kepada Suro dan Soti.
Suro dan Soti diam. Menggelengkan kepala tanda tak tau. "kami tak melihat seorangpun sedari tadi". Jawabnya. "ada apa yah?" lanjut Suro.
"mas tau gak ada kecelakaan gadis yang jatuh dari motor?" jelas si pemuda itu. "Dia adik saya, katanya ada cowo yang iseng ngeledekin dia dijalan sekitar sini. Sampai dia kehilangan kendali dan terjatuh" jelas sang pemuda kepada Suro. "dan bukanya di tolongin, malah di pegang-pegangin payudara adik saya yang jatuh kesakitan tertindih motor". Lanjutnya.
"gw lagi nyari pemuda brengsek itu. Gw gak terima adik gw dilecehin gitu." lanjutnya lagi dengan memperlihatkan keamarahanya.
"owh dengan begitu berarti mas ini menuduh kami berdua gitu?" timpal Suro. Soti hanya diam saja, menatapi satu persatu wajah yang berbicara itu."maaf mas, kami bukan orang seperti itu". Tambahnya. "Sory mas,, permisi gw mau lewat". Pinta Suro sambil melangkah.
"mas, kami memang belum tau pemuda itu. Yang tau cuma adik saya, dia lagi terbaring kesakitan dirumah". Jelasnya dengan menghalau Suro dan Soti.
"kalau mas bukan pemuda yang kami maksud. Mas bersedia ikut saya ke tempat adik saya". Pintanya memojokan Suro. "cuma memastikan saja mas. Dari tadi saya tidak melihat ada pemuda lain selain mas-mas ini". Tegasnya meyakinkan Suro.
"kalau memang adik saya tidak mengenali mas-mas ini. Berarti memang bukan kalian yang saya cari" tambahnya.
"siapa takut" jawab Suro tegas. Demi membela harga dirinya ia mengikuti permintaan pemuda tak dikenali itu.
"oya mas, dirumah sudah banyak warga yang menunggu, mereka semua dalam emosi besar. Jadi mas harus bersikap tenang yah. Jangan memancing amarah mereka. Sudah ada sebelum mas dan ternyata dia bukan pelakunya, namun sikapnya membuat para warga marah. Alhasil naas dia dikeroyok masa". Terangnya blak-blakan.
"untuk menghindari itu, mas titipkan saja barang-barang mas ke temen mas ini. Seperti handphone, dompet, dll. Biar temen mas nunggu disini sama temen saya ini". Pinta pemuda itu kepada Suro.
Satu pemuda itu dan Suro pun pergi. Setelah sebelumnya Suro telah menitipkan dompet dan HPnya ke Soti sesuai anjuran Si Pemuda malang tersebut. Sedang Soti dan pemuda satunya lagi hanya menunggu mereka.
Suro hanya diam. Dalam perjalanan ia terus memikirkan insiden yang tengah ia alami. Tanpa ada pikiran negatif. Hanya sikap bijak yang ia tangguhkah sebagai tanggung bukti atas tuduhannya itu.
Di tengah perjalanan Si pemuda berhenti sejenak. Ia minta ijin untuk buang air kecil sebentar. Suro mengiyakan. Dan pemuda itu pergi meninggalkan Suro untuk mencari tempat sepi untuk hajatnya.
***
Soti menanti-nanti. Harap-harap cemas akan hal-hal yang tak diinginkan menimpa Suro.
30 menit kemudian pemuda berkendara motor itu kembali.
"Temen gw mana?" tanya Soti menyambut kedatangan pemuda tersebut yang datang seorang diri.
"temenmu masih dirumah saya. Sengaja aku tinggal. Adik saya ingin melihatmu juga". Jelasnya kepada Soti.
Setelah berbincang-bincang. Soti dibonceng pemuda itu. Menuju tempat adiknya serta menjemput temanya, Suro.
"oya tadi temen lo pesen. Suruh jagain tuh HP dan Dompetnya". Sela pemuda itu di tengah perjalanan. "mending lo titipin aja entar sebelum sampai rumah gw. Di belakang rumah gw ada warung kecil. Lo titipin aja kesitu. Gw udah ngomong sebelumnya. Daripada lo kenapa-napa nantinya". Saran Pemuda itu dengan meyakinkanya.
***
"Lama banget sih, tuh orang. Kencing batu kali yah" gusarnya Suro dalam penantian.
"sudah hampir satu jam tapi gak ada batang hidungnya". Suro semakin panik.
"kurang ajar nih, gw kaya sudah ditipu mentah-mentah". Suro menyadari dirinya tengah tertipu. Ia segera balik.
Tak menghiraukan pemuda itu yang sedang kencing entah dimana. Sesegera mungkin ia menjemput Soti. "pasti ada apa-apa nih dengan Soti". Umpatnya dalam hati sambil berlari.
***
"kamu tunggu disini yah. Saya akan titipkan ke warung itu". Perintah dua pemuda itu kepada Soti dan pergi ke warung di seberang jalan.
Soti melihat mereka masuk ke Warung di Seberang. Ia memperhatikanny a secara teliti. Tidak ada perasaan was-was di hatinya.
Soti merasa tak enak kala itu. Tak ubah-ubahnya mata Soti menelanjangi wajah warung di depanya.
"lama banget si, ngapain aja mereka" gusarnya menunggu yang tak keluar-keluar dari warung.
Dalam hati kecil Soti merasa ia tengah tertipu. Namun ia tepiskan jauh-jauh pikiran negatifnya itu. Merasa memiliki tanggung jawab akan harta temanya itu. Ia urungkan niat untuk beranjak pergi. Meski prasangka buruk itu lebih condong dalam pikiranya.
"lho ko tutup" Soti terkejut warung yang ia perhatikan sedari tadi sudah akan tutup.
"permisi bu" sapa Soti kepada ibu pemilik warung yang tengah menutup rapat lapaknya.
"ada apa mas" sahut ibu warung itu.
"ibu tau pemuda yang masuk sini sejam yang lalu?" tanyanya
"pemuda yang mana mas. Banyak yang kemari. Ibu gak hafal satu-satu". Jawabnya heran.
"dia bilang rumahnya dibelakang warung ibu. Tadi dia masuk mau nitipin hp saya ke ibu". Jelas Soti melemah suaranya.
"dibelakang warung ibu memang ada pemuda. Tapi dia gak pernah kesini. Apalagi sejam yang lalu". Terangnya.
Soti merasa benar-benar kena tipu. Mendengar jawaban ibu warung yang tak tau apa-apa.
"yaudah bu. Permisi"
Soti mulai menyadari sepenuhnya. Ia tengah tertipu mentah-mentah. Rasa bersalah yang hebat menikam tajam batinya. Atas kelengahan menjaga amanat temanya.
Ia bergegas kembali ke persimpangan jalan dimana ia terpisah dengan Suro.
***
"brengsek. . . . " teriak Suro saat tiba di persimpangan. Tak ada Soti, tak ada pemuda satunya lagi.
"pasti nih Soti sudah dijebaknya. Duuuh HP dan Dompet gw...". Sadarnya.
Suro segera balik ke rumah. Sampai rumah ditanyakan semua teman-temanya.
"pada ngeliat Soti gak?" tanyanya pada temen kerjanya yang tengah asik nonton Bola.
"bukanya tadi bareng lo!" jawab salah seorang teman yang melihat mereka saat berangkatnya tadi.
Suro menerangkan kejadian yang menimpanya itu dengan panjang lebar. Dan mereka ahirnya langsung pergi mencari Soti.
Sudah jam 1 malam, Soti tak nampak juga. Ramai-ramai Suro dan kawan-kawanya terus mencari Soti.
***
"Apeeeees. . . . Apeeeees". "Brengseeeek". Teriak Soti dengan suara lantang di tengah jalan yang sudah sepi.
Soti melihat kawan-kawannya di penghujung jalan. Dan Suro juga ada di situ juga.
"itu bukanya Suro, kok sama temen-temen sih" Soti membatin.
Langkahnya sengaja ia percepat. Meski sangat lelah baginya kala itu. Yang tak mampu lagi untuk berlari.
Salah seorang yang tengah menengok ke belakang. Melihat Soti yang tengah kelelahan dalam langkah lunglai. Bergegas mereka berlarian menghampiri Soti.
"Soti, kamu gak apa-apa?" pertanyaan beruntun itu menimpa pendengaran Soti yang tengah melemah karena lelahnya.
Dirangkulnya Soti bareng-bareng oleh kawanya. Segera mereka balik kerumah.
Setelah sampai di rumah barulah Soti menjelaskan semua yang ia alami.
Suro yang iba melihat expresi Soti kala itu, tak tega menanyakan HP dan Dompetnya.
Soti yang merasa bersalah terhadap Suro, ia menjelaskan kepada Suro sedetail mungkin. Suro dan Soti menyadari. Yang menimpa mereka itu bukanlah kesalahan masing-masing. Mereka tak saling menyalahkan. Dan mengikhlaskan semua yang telah raib.
THE END.
Penulis
Sultan Faranaza
Cerpen lain di
www.csfaranaza.blogspot.com

Suro dan Soti, salah seorang pekerja di Proyek Bank Sinarmas di sekitar ITC Permata Hijau Jakarta Selatan. yang tengah kecanduan Situs nomer satu itu.
Suatu malam mereka ingin memanjakan hobi barunya itu di sebuah Warnet yang tak jauh dari tempat kerjanya itu.
Dengan asiknya mereka memandangi foto-foto gadis nakal, kadang image selebriti mereka pelototi. Dengan giatnya membaca status-status teman mayanya di Beranda. Tak jarang mereka iseng memberi komentar jail. Demi menambah suasana tambah seru di depan layar komputer.
Berjam-jam duduk terpaku di depan layar semu. Semakin larut terasa saat mata mulai mengantuk. Terpaksa mereka mengahiri aksi manja itu.
Sambil berbincang-bincang mereka menuju pulang. Berjalan santai di atas aspal dengan langkah lunglai.
Sembari ngobrol kesana-kemari. Jalanan yang semakin sepi mereka tidak peduli.
Sampai pada persimpangan jalan mereka berhenti. Dua pemuda berkendara motor tak dikenali tengah terlihat sedang memanggil dan mulai menghampiri.
"maaf mas. Kalian lihat ada pemuda yang lewat sekitar sini gak?" tanya pemuda asing itu kepada Suro dan Soti.
Suro dan Soti diam. Menggelengkan kepala tanda tak tau. "kami tak melihat seorangpun sedari tadi". Jawabnya. "ada apa yah?" lanjut Suro.
"mas tau gak ada kecelakaan gadis yang jatuh dari motor?" jelas si pemuda itu. "Dia adik saya, katanya ada cowo yang iseng ngeledekin dia dijalan sekitar sini. Sampai dia kehilangan kendali dan terjatuh" jelas sang pemuda kepada Suro. "dan bukanya di tolongin, malah di pegang-pegangin payudara adik saya yang jatuh kesakitan tertindih motor". Lanjutnya.
"gw lagi nyari pemuda brengsek itu. Gw gak terima adik gw dilecehin gitu." lanjutnya lagi dengan memperlihatkan keamarahanya.
"owh dengan begitu berarti mas ini menuduh kami berdua gitu?" timpal Suro. Soti hanya diam saja, menatapi satu persatu wajah yang berbicara itu."maaf mas, kami bukan orang seperti itu". Tambahnya. "Sory mas,, permisi gw mau lewat". Pinta Suro sambil melangkah.
"mas, kami memang belum tau pemuda itu. Yang tau cuma adik saya, dia lagi terbaring kesakitan dirumah". Jelasnya dengan menghalau Suro dan Soti.
"kalau mas bukan pemuda yang kami maksud. Mas bersedia ikut saya ke tempat adik saya". Pintanya memojokan Suro. "cuma memastikan saja mas. Dari tadi saya tidak melihat ada pemuda lain selain mas-mas ini". Tegasnya meyakinkan Suro.
"kalau memang adik saya tidak mengenali mas-mas ini. Berarti memang bukan kalian yang saya cari" tambahnya.
"siapa takut" jawab Suro tegas. Demi membela harga dirinya ia mengikuti permintaan pemuda tak dikenali itu.
"oya mas, dirumah sudah banyak warga yang menunggu, mereka semua dalam emosi besar. Jadi mas harus bersikap tenang yah. Jangan memancing amarah mereka. Sudah ada sebelum mas dan ternyata dia bukan pelakunya, namun sikapnya membuat para warga marah. Alhasil naas dia dikeroyok masa". Terangnya blak-blakan.
"untuk menghindari itu, mas titipkan saja barang-barang mas ke temen mas ini. Seperti handphone, dompet, dll. Biar temen mas nunggu disini sama temen saya ini". Pinta pemuda itu kepada Suro.
Satu pemuda itu dan Suro pun pergi. Setelah sebelumnya Suro telah menitipkan dompet dan HPnya ke Soti sesuai anjuran Si Pemuda malang tersebut. Sedang Soti dan pemuda satunya lagi hanya menunggu mereka.
Suro hanya diam. Dalam perjalanan ia terus memikirkan insiden yang tengah ia alami. Tanpa ada pikiran negatif. Hanya sikap bijak yang ia tangguhkah sebagai tanggung bukti atas tuduhannya itu.
Di tengah perjalanan Si pemuda berhenti sejenak. Ia minta ijin untuk buang air kecil sebentar. Suro mengiyakan. Dan pemuda itu pergi meninggalkan Suro untuk mencari tempat sepi untuk hajatnya.
***
Soti menanti-nanti. Harap-harap cemas akan hal-hal yang tak diinginkan menimpa Suro.
30 menit kemudian pemuda berkendara motor itu kembali.
"Temen gw mana?" tanya Soti menyambut kedatangan pemuda tersebut yang datang seorang diri.
"temenmu masih dirumah saya. Sengaja aku tinggal. Adik saya ingin melihatmu juga". Jelasnya kepada Soti.
Setelah berbincang-bincang. Soti dibonceng pemuda itu. Menuju tempat adiknya serta menjemput temanya, Suro.
"oya tadi temen lo pesen. Suruh jagain tuh HP dan Dompetnya". Sela pemuda itu di tengah perjalanan. "mending lo titipin aja entar sebelum sampai rumah gw. Di belakang rumah gw ada warung kecil. Lo titipin aja kesitu. Gw udah ngomong sebelumnya. Daripada lo kenapa-napa nantinya". Saran Pemuda itu dengan meyakinkanya.
***
"Lama banget sih, tuh orang. Kencing batu kali yah" gusarnya Suro dalam penantian.
"sudah hampir satu jam tapi gak ada batang hidungnya". Suro semakin panik.
"kurang ajar nih, gw kaya sudah ditipu mentah-mentah". Suro menyadari dirinya tengah tertipu. Ia segera balik.
Tak menghiraukan pemuda itu yang sedang kencing entah dimana. Sesegera mungkin ia menjemput Soti. "pasti ada apa-apa nih dengan Soti". Umpatnya dalam hati sambil berlari.
***
"kamu tunggu disini yah. Saya akan titipkan ke warung itu". Perintah dua pemuda itu kepada Soti dan pergi ke warung di seberang jalan.
Soti melihat mereka masuk ke Warung di Seberang. Ia memperhatikanny a secara teliti. Tidak ada perasaan was-was di hatinya.
Soti merasa tak enak kala itu. Tak ubah-ubahnya mata Soti menelanjangi wajah warung di depanya.
"lama banget si, ngapain aja mereka" gusarnya menunggu yang tak keluar-keluar dari warung.
Dalam hati kecil Soti merasa ia tengah tertipu. Namun ia tepiskan jauh-jauh pikiran negatifnya itu. Merasa memiliki tanggung jawab akan harta temanya itu. Ia urungkan niat untuk beranjak pergi. Meski prasangka buruk itu lebih condong dalam pikiranya.
"lho ko tutup" Soti terkejut warung yang ia perhatikan sedari tadi sudah akan tutup.
"permisi bu" sapa Soti kepada ibu pemilik warung yang tengah menutup rapat lapaknya.
"ada apa mas" sahut ibu warung itu.
"ibu tau pemuda yang masuk sini sejam yang lalu?" tanyanya
"pemuda yang mana mas. Banyak yang kemari. Ibu gak hafal satu-satu". Jawabnya heran.
"dia bilang rumahnya dibelakang warung ibu. Tadi dia masuk mau nitipin hp saya ke ibu". Jelas Soti melemah suaranya.
"dibelakang warung ibu memang ada pemuda. Tapi dia gak pernah kesini. Apalagi sejam yang lalu". Terangnya.
Soti merasa benar-benar kena tipu. Mendengar jawaban ibu warung yang tak tau apa-apa.
"yaudah bu. Permisi"
Soti mulai menyadari sepenuhnya. Ia tengah tertipu mentah-mentah. Rasa bersalah yang hebat menikam tajam batinya. Atas kelengahan menjaga amanat temanya.
Ia bergegas kembali ke persimpangan jalan dimana ia terpisah dengan Suro.
***
"brengsek. . . . " teriak Suro saat tiba di persimpangan. Tak ada Soti, tak ada pemuda satunya lagi.
"pasti nih Soti sudah dijebaknya. Duuuh HP dan Dompet gw...". Sadarnya.
Suro segera balik ke rumah. Sampai rumah ditanyakan semua teman-temanya.
"pada ngeliat Soti gak?" tanyanya pada temen kerjanya yang tengah asik nonton Bola.
"bukanya tadi bareng lo!" jawab salah seorang teman yang melihat mereka saat berangkatnya tadi.
Suro menerangkan kejadian yang menimpanya itu dengan panjang lebar. Dan mereka ahirnya langsung pergi mencari Soti.
Sudah jam 1 malam, Soti tak nampak juga. Ramai-ramai Suro dan kawan-kawanya terus mencari Soti.
***
"Apeeeees. . . . Apeeeees". "Brengseeeek". Teriak Soti dengan suara lantang di tengah jalan yang sudah sepi.
Soti melihat kawan-kawannya di penghujung jalan. Dan Suro juga ada di situ juga.
"itu bukanya Suro, kok sama temen-temen sih" Soti membatin.
Langkahnya sengaja ia percepat. Meski sangat lelah baginya kala itu. Yang tak mampu lagi untuk berlari.
Salah seorang yang tengah menengok ke belakang. Melihat Soti yang tengah kelelahan dalam langkah lunglai. Bergegas mereka berlarian menghampiri Soti.
"Soti, kamu gak apa-apa?" pertanyaan beruntun itu menimpa pendengaran Soti yang tengah melemah karena lelahnya.
Dirangkulnya Soti bareng-bareng oleh kawanya. Segera mereka balik kerumah.
Setelah sampai di rumah barulah Soti menjelaskan semua yang ia alami.
Suro yang iba melihat expresi Soti kala itu, tak tega menanyakan HP dan Dompetnya.
Soti yang merasa bersalah terhadap Suro, ia menjelaskan kepada Suro sedetail mungkin. Suro dan Soti menyadari. Yang menimpa mereka itu bukanlah kesalahan masing-masing. Mereka tak saling menyalahkan. Dan mengikhlaskan semua yang telah raib.
THE END.
Penulis
Sultan Faranaza
Cerpen lain di
www.csfaranaza.blogspot.com

Penulis Sultan Faranaza
Langganan:
Postingan (Atom)