Situs jejaring
sosial Facebook adalah situs yang sangat populer. Semenjak akses gratis
via seluler itu diberlakukan. Facebook menjadi media komunikasi nomer
satu dikalangan pemuda-pemudi seluruh dunia.
Suro dan Soti, salah seorang pekerja di Proyek Bank Sinarmas di sekitar ITC Permata Hijau Jakarta Selatan. yang tengah kecanduan Situs nomer satu itu.
Suatu malam mereka ingin memanjakan hobi barunya itu di sebuah Warnet yang tak jauh dari tempat kerjanya itu.
Dengan asiknya mereka memandangi foto-foto gadis nakal, kadang image selebriti mereka pelototi. Dengan giatnya membaca status-status teman mayanya di Beranda. Tak jarang mereka iseng memberi komentar jail. Demi menambah suasana tambah seru di depan layar komputer.
Berjam-jam duduk terpaku di depan layar semu. Semakin larut terasa saat mata mulai mengantuk. Terpaksa mereka mengahiri aksi manja itu.
Sambil berbincang-bincang mereka menuju pulang. Berjalan santai di atas aspal dengan langkah lunglai.
Sembari ngobrol kesana-kemari. Jalanan yang semakin sepi mereka tidak peduli.
Sampai pada persimpangan jalan mereka berhenti. Dua pemuda berkendara motor tak dikenali tengah terlihat sedang memanggil dan mulai menghampiri.
"maaf mas. Kalian lihat ada pemuda yang lewat sekitar sini gak?" tanya pemuda asing itu kepada Suro dan Soti.
Suro dan Soti diam. Menggelengkan kepala tanda tak tau. "kami tak melihat seorangpun sedari tadi". Jawabnya. "ada apa yah?" lanjut Suro.
"mas tau gak ada kecelakaan gadis yang jatuh dari motor?" jelas si pemuda itu. "Dia adik saya, katanya ada cowo yang iseng ngeledekin dia dijalan sekitar sini. Sampai dia kehilangan kendali dan terjatuh" jelas sang pemuda kepada Suro. "dan bukanya di tolongin, malah di pegang-pegangin payudara adik saya yang jatuh kesakitan tertindih motor". Lanjutnya.
"gw lagi nyari pemuda brengsek itu. Gw gak terima adik gw dilecehin gitu." lanjutnya lagi dengan memperlihatkan keamarahanya.
"owh dengan begitu berarti mas ini menuduh kami berdua gitu?" timpal Suro. Soti hanya diam saja, menatapi satu persatu wajah yang berbicara itu."maaf mas, kami bukan orang seperti itu". Tambahnya. "Sory mas,, permisi gw mau lewat". Pinta Suro sambil melangkah.
"mas, kami memang belum tau pemuda itu. Yang tau cuma adik saya, dia lagi terbaring kesakitan dirumah". Jelasnya dengan menghalau Suro dan Soti.
"kalau mas bukan pemuda yang kami maksud. Mas bersedia ikut saya ke tempat adik saya". Pintanya memojokan Suro. "cuma memastikan saja mas. Dari tadi saya tidak melihat ada pemuda lain selain mas-mas ini". Tegasnya meyakinkan Suro.
"kalau memang adik saya tidak mengenali mas-mas ini. Berarti memang bukan kalian yang saya cari" tambahnya.
"siapa takut" jawab Suro tegas. Demi membela harga dirinya ia mengikuti permintaan pemuda tak dikenali itu.
"oya mas, dirumah sudah banyak warga yang menunggu, mereka semua dalam emosi besar. Jadi mas harus bersikap tenang yah. Jangan memancing amarah mereka. Sudah ada sebelum mas dan ternyata dia bukan pelakunya, namun sikapnya membuat para warga marah. Alhasil naas dia dikeroyok masa". Terangnya blak-blakan.
"untuk menghindari itu, mas titipkan saja barang-barang mas ke temen mas ini. Seperti handphone, dompet, dll. Biar temen mas nunggu disini sama temen saya ini". Pinta pemuda itu kepada Suro.
Satu pemuda itu dan Suro pun pergi. Setelah sebelumnya Suro telah menitipkan dompet dan HPnya ke Soti sesuai anjuran Si Pemuda malang tersebut. Sedang Soti dan pemuda satunya lagi hanya menunggu mereka.
Suro hanya diam. Dalam perjalanan ia terus memikirkan insiden yang tengah ia alami. Tanpa ada pikiran negatif. Hanya sikap bijak yang ia tangguhkah sebagai tanggung bukti atas tuduhannya itu.
Di tengah perjalanan Si pemuda berhenti sejenak. Ia minta ijin untuk buang air kecil sebentar. Suro mengiyakan. Dan pemuda itu pergi meninggalkan Suro untuk mencari tempat sepi untuk hajatnya.
***
Soti menanti-nanti. Harap-harap cemas akan hal-hal yang tak diinginkan menimpa Suro.
30 menit kemudian pemuda berkendara motor itu kembali.
"Temen gw mana?" tanya Soti menyambut kedatangan pemuda tersebut yang datang seorang diri.
"temenmu masih dirumah saya. Sengaja aku tinggal. Adik saya ingin melihatmu juga". Jelasnya kepada Soti.
Setelah berbincang-bincang. Soti dibonceng pemuda itu. Menuju tempat adiknya serta menjemput temanya, Suro.
"oya tadi temen lo pesen. Suruh jagain tuh HP dan Dompetnya". Sela pemuda itu di tengah perjalanan. "mending lo titipin aja entar sebelum sampai rumah gw. Di belakang rumah gw ada warung kecil. Lo titipin aja kesitu. Gw udah ngomong sebelumnya. Daripada lo kenapa-napa nantinya". Saran Pemuda itu dengan meyakinkanya.
***
"Lama banget sih, tuh orang. Kencing batu kali yah" gusarnya Suro dalam penantian.
"sudah hampir satu jam tapi gak ada batang hidungnya". Suro semakin panik.
"kurang ajar nih, gw kaya sudah ditipu mentah-mentah". Suro menyadari dirinya tengah tertipu. Ia segera balik.
Tak menghiraukan pemuda itu yang sedang kencing entah dimana. Sesegera mungkin ia menjemput Soti. "pasti ada apa-apa nih dengan Soti". Umpatnya dalam hati sambil berlari.
***
"kamu tunggu disini yah. Saya akan titipkan ke warung itu". Perintah dua pemuda itu kepada Soti dan pergi ke warung di seberang jalan.
Soti melihat mereka masuk ke Warung di Seberang. Ia memperhatikanny a secara teliti. Tidak ada perasaan was-was di hatinya.
Soti merasa tak enak kala itu. Tak ubah-ubahnya mata Soti menelanjangi wajah warung di depanya.
"lama banget si, ngapain aja mereka" gusarnya menunggu yang tak keluar-keluar dari warung.
Dalam hati kecil Soti merasa ia tengah tertipu. Namun ia tepiskan jauh-jauh pikiran negatifnya itu. Merasa memiliki tanggung jawab akan harta temanya itu. Ia urungkan niat untuk beranjak pergi. Meski prasangka buruk itu lebih condong dalam pikiranya.
"lho ko tutup" Soti terkejut warung yang ia perhatikan sedari tadi sudah akan tutup.
"permisi bu" sapa Soti kepada ibu pemilik warung yang tengah menutup rapat lapaknya.
"ada apa mas" sahut ibu warung itu.
"ibu tau pemuda yang masuk sini sejam yang lalu?" tanyanya
"pemuda yang mana mas. Banyak yang kemari. Ibu gak hafal satu-satu". Jawabnya heran.
"dia bilang rumahnya dibelakang warung ibu. Tadi dia masuk mau nitipin hp saya ke ibu". Jelas Soti melemah suaranya.
"dibelakang warung ibu memang ada pemuda. Tapi dia gak pernah kesini. Apalagi sejam yang lalu". Terangnya.
Soti merasa benar-benar kena tipu. Mendengar jawaban ibu warung yang tak tau apa-apa.
"yaudah bu. Permisi"
Soti mulai menyadari sepenuhnya. Ia tengah tertipu mentah-mentah. Rasa bersalah yang hebat menikam tajam batinya. Atas kelengahan menjaga amanat temanya.
Ia bergegas kembali ke persimpangan jalan dimana ia terpisah dengan Suro.
***
"brengsek. . . . " teriak Suro saat tiba di persimpangan. Tak ada Soti, tak ada pemuda satunya lagi.
"pasti nih Soti sudah dijebaknya. Duuuh HP dan Dompet gw...". Sadarnya.
Suro segera balik ke rumah. Sampai rumah ditanyakan semua teman-temanya.
"pada ngeliat Soti gak?" tanyanya pada temen kerjanya yang tengah asik nonton Bola.
"bukanya tadi bareng lo!" jawab salah seorang teman yang melihat mereka saat berangkatnya tadi.
Suro menerangkan kejadian yang menimpanya itu dengan panjang lebar. Dan mereka ahirnya langsung pergi mencari Soti.
Sudah jam 1 malam, Soti tak nampak juga. Ramai-ramai Suro dan kawan-kawanya terus mencari Soti.
***
"Apeeeees. . . . Apeeeees". "Brengseeeek". Teriak Soti dengan suara lantang di tengah jalan yang sudah sepi.
Soti melihat kawan-kawannya di penghujung jalan. Dan Suro juga ada di situ juga.
"itu bukanya Suro, kok sama temen-temen sih" Soti membatin.
Langkahnya sengaja ia percepat. Meski sangat lelah baginya kala itu. Yang tak mampu lagi untuk berlari.
Salah seorang yang tengah menengok ke belakang. Melihat Soti yang tengah kelelahan dalam langkah lunglai. Bergegas mereka berlarian menghampiri Soti.
"Soti, kamu gak apa-apa?" pertanyaan beruntun itu menimpa pendengaran Soti yang tengah melemah karena lelahnya.
Dirangkulnya Soti bareng-bareng oleh kawanya. Segera mereka balik kerumah.
Setelah sampai di rumah barulah Soti menjelaskan semua yang ia alami.
Suro yang iba melihat expresi Soti kala itu, tak tega menanyakan HP dan Dompetnya.
Soti yang merasa bersalah terhadap Suro, ia menjelaskan kepada Suro sedetail mungkin. Suro dan Soti menyadari. Yang menimpa mereka itu bukanlah kesalahan masing-masing. Mereka tak saling menyalahkan. Dan mengikhlaskan semua yang telah raib.
THE END.
Penulis
Sultan Faranaza
Cerpen lain di
www.csfaranaza.blogspot.com

Suro dan Soti, salah seorang pekerja di Proyek Bank Sinarmas di sekitar ITC Permata Hijau Jakarta Selatan. yang tengah kecanduan Situs nomer satu itu.
Suatu malam mereka ingin memanjakan hobi barunya itu di sebuah Warnet yang tak jauh dari tempat kerjanya itu.
Dengan asiknya mereka memandangi foto-foto gadis nakal, kadang image selebriti mereka pelototi. Dengan giatnya membaca status-status teman mayanya di Beranda. Tak jarang mereka iseng memberi komentar jail. Demi menambah suasana tambah seru di depan layar komputer.
Berjam-jam duduk terpaku di depan layar semu. Semakin larut terasa saat mata mulai mengantuk. Terpaksa mereka mengahiri aksi manja itu.
Sambil berbincang-bincang mereka menuju pulang. Berjalan santai di atas aspal dengan langkah lunglai.
Sembari ngobrol kesana-kemari. Jalanan yang semakin sepi mereka tidak peduli.
Sampai pada persimpangan jalan mereka berhenti. Dua pemuda berkendara motor tak dikenali tengah terlihat sedang memanggil dan mulai menghampiri.
"maaf mas. Kalian lihat ada pemuda yang lewat sekitar sini gak?" tanya pemuda asing itu kepada Suro dan Soti.
Suro dan Soti diam. Menggelengkan kepala tanda tak tau. "kami tak melihat seorangpun sedari tadi". Jawabnya. "ada apa yah?" lanjut Suro.
"mas tau gak ada kecelakaan gadis yang jatuh dari motor?" jelas si pemuda itu. "Dia adik saya, katanya ada cowo yang iseng ngeledekin dia dijalan sekitar sini. Sampai dia kehilangan kendali dan terjatuh" jelas sang pemuda kepada Suro. "dan bukanya di tolongin, malah di pegang-pegangin payudara adik saya yang jatuh kesakitan tertindih motor". Lanjutnya.
"gw lagi nyari pemuda brengsek itu. Gw gak terima adik gw dilecehin gitu." lanjutnya lagi dengan memperlihatkan keamarahanya.
"owh dengan begitu berarti mas ini menuduh kami berdua gitu?" timpal Suro. Soti hanya diam saja, menatapi satu persatu wajah yang berbicara itu."maaf mas, kami bukan orang seperti itu". Tambahnya. "Sory mas,, permisi gw mau lewat". Pinta Suro sambil melangkah.
"mas, kami memang belum tau pemuda itu. Yang tau cuma adik saya, dia lagi terbaring kesakitan dirumah". Jelasnya dengan menghalau Suro dan Soti.
"kalau mas bukan pemuda yang kami maksud. Mas bersedia ikut saya ke tempat adik saya". Pintanya memojokan Suro. "cuma memastikan saja mas. Dari tadi saya tidak melihat ada pemuda lain selain mas-mas ini". Tegasnya meyakinkan Suro.
"kalau memang adik saya tidak mengenali mas-mas ini. Berarti memang bukan kalian yang saya cari" tambahnya.
"siapa takut" jawab Suro tegas. Demi membela harga dirinya ia mengikuti permintaan pemuda tak dikenali itu.
"oya mas, dirumah sudah banyak warga yang menunggu, mereka semua dalam emosi besar. Jadi mas harus bersikap tenang yah. Jangan memancing amarah mereka. Sudah ada sebelum mas dan ternyata dia bukan pelakunya, namun sikapnya membuat para warga marah. Alhasil naas dia dikeroyok masa". Terangnya blak-blakan.
"untuk menghindari itu, mas titipkan saja barang-barang mas ke temen mas ini. Seperti handphone, dompet, dll. Biar temen mas nunggu disini sama temen saya ini". Pinta pemuda itu kepada Suro.
Satu pemuda itu dan Suro pun pergi. Setelah sebelumnya Suro telah menitipkan dompet dan HPnya ke Soti sesuai anjuran Si Pemuda malang tersebut. Sedang Soti dan pemuda satunya lagi hanya menunggu mereka.
Suro hanya diam. Dalam perjalanan ia terus memikirkan insiden yang tengah ia alami. Tanpa ada pikiran negatif. Hanya sikap bijak yang ia tangguhkah sebagai tanggung bukti atas tuduhannya itu.
Di tengah perjalanan Si pemuda berhenti sejenak. Ia minta ijin untuk buang air kecil sebentar. Suro mengiyakan. Dan pemuda itu pergi meninggalkan Suro untuk mencari tempat sepi untuk hajatnya.
***
Soti menanti-nanti. Harap-harap cemas akan hal-hal yang tak diinginkan menimpa Suro.
30 menit kemudian pemuda berkendara motor itu kembali.
"Temen gw mana?" tanya Soti menyambut kedatangan pemuda tersebut yang datang seorang diri.
"temenmu masih dirumah saya. Sengaja aku tinggal. Adik saya ingin melihatmu juga". Jelasnya kepada Soti.
Setelah berbincang-bincang. Soti dibonceng pemuda itu. Menuju tempat adiknya serta menjemput temanya, Suro.
"oya tadi temen lo pesen. Suruh jagain tuh HP dan Dompetnya". Sela pemuda itu di tengah perjalanan. "mending lo titipin aja entar sebelum sampai rumah gw. Di belakang rumah gw ada warung kecil. Lo titipin aja kesitu. Gw udah ngomong sebelumnya. Daripada lo kenapa-napa nantinya". Saran Pemuda itu dengan meyakinkanya.
***
"Lama banget sih, tuh orang. Kencing batu kali yah" gusarnya Suro dalam penantian.
"sudah hampir satu jam tapi gak ada batang hidungnya". Suro semakin panik.
"kurang ajar nih, gw kaya sudah ditipu mentah-mentah". Suro menyadari dirinya tengah tertipu. Ia segera balik.
Tak menghiraukan pemuda itu yang sedang kencing entah dimana. Sesegera mungkin ia menjemput Soti. "pasti ada apa-apa nih dengan Soti". Umpatnya dalam hati sambil berlari.
***
"kamu tunggu disini yah. Saya akan titipkan ke warung itu". Perintah dua pemuda itu kepada Soti dan pergi ke warung di seberang jalan.
Soti melihat mereka masuk ke Warung di Seberang. Ia memperhatikanny a secara teliti. Tidak ada perasaan was-was di hatinya.
Soti merasa tak enak kala itu. Tak ubah-ubahnya mata Soti menelanjangi wajah warung di depanya.
"lama banget si, ngapain aja mereka" gusarnya menunggu yang tak keluar-keluar dari warung.
Dalam hati kecil Soti merasa ia tengah tertipu. Namun ia tepiskan jauh-jauh pikiran negatifnya itu. Merasa memiliki tanggung jawab akan harta temanya itu. Ia urungkan niat untuk beranjak pergi. Meski prasangka buruk itu lebih condong dalam pikiranya.
"lho ko tutup" Soti terkejut warung yang ia perhatikan sedari tadi sudah akan tutup.
"permisi bu" sapa Soti kepada ibu pemilik warung yang tengah menutup rapat lapaknya.
"ada apa mas" sahut ibu warung itu.
"ibu tau pemuda yang masuk sini sejam yang lalu?" tanyanya
"pemuda yang mana mas. Banyak yang kemari. Ibu gak hafal satu-satu". Jawabnya heran.
"dia bilang rumahnya dibelakang warung ibu. Tadi dia masuk mau nitipin hp saya ke ibu". Jelas Soti melemah suaranya.
"dibelakang warung ibu memang ada pemuda. Tapi dia gak pernah kesini. Apalagi sejam yang lalu". Terangnya.
Soti merasa benar-benar kena tipu. Mendengar jawaban ibu warung yang tak tau apa-apa.
"yaudah bu. Permisi"
Soti mulai menyadari sepenuhnya. Ia tengah tertipu mentah-mentah. Rasa bersalah yang hebat menikam tajam batinya. Atas kelengahan menjaga amanat temanya.
Ia bergegas kembali ke persimpangan jalan dimana ia terpisah dengan Suro.
***
"brengsek. . . . " teriak Suro saat tiba di persimpangan. Tak ada Soti, tak ada pemuda satunya lagi.
"pasti nih Soti sudah dijebaknya. Duuuh HP dan Dompet gw...". Sadarnya.
Suro segera balik ke rumah. Sampai rumah ditanyakan semua teman-temanya.
"pada ngeliat Soti gak?" tanyanya pada temen kerjanya yang tengah asik nonton Bola.
"bukanya tadi bareng lo!" jawab salah seorang teman yang melihat mereka saat berangkatnya tadi.
Suro menerangkan kejadian yang menimpanya itu dengan panjang lebar. Dan mereka ahirnya langsung pergi mencari Soti.
Sudah jam 1 malam, Soti tak nampak juga. Ramai-ramai Suro dan kawan-kawanya terus mencari Soti.
***
"Apeeeees. . . . Apeeeees". "Brengseeeek". Teriak Soti dengan suara lantang di tengah jalan yang sudah sepi.
Soti melihat kawan-kawannya di penghujung jalan. Dan Suro juga ada di situ juga.
"itu bukanya Suro, kok sama temen-temen sih" Soti membatin.
Langkahnya sengaja ia percepat. Meski sangat lelah baginya kala itu. Yang tak mampu lagi untuk berlari.
Salah seorang yang tengah menengok ke belakang. Melihat Soti yang tengah kelelahan dalam langkah lunglai. Bergegas mereka berlarian menghampiri Soti.
"Soti, kamu gak apa-apa?" pertanyaan beruntun itu menimpa pendengaran Soti yang tengah melemah karena lelahnya.
Dirangkulnya Soti bareng-bareng oleh kawanya. Segera mereka balik kerumah.
Setelah sampai di rumah barulah Soti menjelaskan semua yang ia alami.
Suro yang iba melihat expresi Soti kala itu, tak tega menanyakan HP dan Dompetnya.
Soti yang merasa bersalah terhadap Suro, ia menjelaskan kepada Suro sedetail mungkin. Suro dan Soti menyadari. Yang menimpa mereka itu bukanlah kesalahan masing-masing. Mereka tak saling menyalahkan. Dan mengikhlaskan semua yang telah raib.
THE END.
Penulis
Sultan Faranaza
Cerpen lain di
www.csfaranaza.blogspot.com

Penulis Sultan Faranaza
Tidak ada komentar:
Posting Komentar