KISAH PKBM KU
Dering hp terdengar keras memanggilku tuk segera angkat telpon. "Siapa yah" pikirku melihat nomor tanpa nama memanggilku. Segera ku beri salam, oh ternyata teman lama semasa sekolah. Tanya-tanya soal kabar sembari kegiatan apa yang aku sibukan sekarang, aku hanya tersenyum menutupi pekerjaanku. Tak ingin mereka tau tentangku. Terbayang dalam pikirku betapa senangnya mereka-mereka yang tengah menguasai berbagai pekerjaan dan tak sedikit yang menjadi kepercayaan orang-orang besar atau bos-bos besar mereka. Khayalku mengapa ku tak mampu padahal kecerdasanku tak terlalu minus untuk maju. Aku teringat akan sepupuku dulu pernah mengikuti sekolah lanjutan menengah atas, namun kesenangan dalam bekerja membuat dia lalai dan melupakan kegiatan belajar itu. Langsung saja aku tanyakan sama om aku (bapak sepupuku), dimana sepupuku dulu belajar dan apa syarat-syaratnya. Dengan info yang agak kurang jelas dari om aku karena memang sudah teramat lama saat sepupuku belajar mungkin 5 tahun lalu, aku coba ingat-ingat alamatnya dalam memory otakku.
Juli itu dua hari sebelum ulang tahunku. Aku pulang ke kampung halamanku dari Jakarta. Aku utarakan benakku tuk lanjutkan sekolahku yang putus, sama mamaku. Alhamdulillah mamaku mendukungku. Tak mengulur waktu aku segera mencari alamat yang di berikan om aku. "Waduuuh.... Ramai sekali disini", gumamku menemukan tempat yang kumaksud dari kejauhan. Berhenti sejenak berpikir kembali tuk bulatkan tekat itu. Sempat balik lagi saat ku tau seramai ini, namun tengah jalan ku putar kembali ke lokasi. Yah tulisan PKBM terpampang besar di depan menempel di bagian atas gerbang. Aku tak terlalu berani karena aku pemalu, aku masuk sebuah warung deket situ sekedar minum kopi tuk sejenak berpikir. Sembari meneguk secangkir kopi aku bertanya-tanya pada pemilik warung tentang sekolah itu. Sempat aku minta untuk didaftarkan, dengan senyum-senyum malu aku utarakan sama pemilik warung tersebut. Si pemilik warung hanya tersenyum sembari menyemangatiku. Sekelebat ku melihat seorang cewe yang mungkin juga bakal murid disini. Tak begitu cantik tak begitu jelek pula biasa-biasa saja namun entah apa yang membuatku seketika menjadi anak pemberani (tak malu-malu tuk maju) tuk daftarkan diri di PKBM ini. Tuntas sudah pendaftaranku kembali menjenguk warung menengok kopiku yang belum dingin tuk segera di larutkan dalam tenggorokanku sambil merogoh disaku ku bayar dan pulang dengan hati tentram. Esok hari mulailah ku sibukan kegiatan jam 5 soreku dengan mengikuti jenjang pendidilan susulan alias PKBM (orang-orang bilang kejar paket). Jauh berbeda dengan sekolahku dulu yang memakai seragam lengkap dengan sepatunya. Disini ku sempet tertawa kecil dalam hati, melihat beberapa murid ada yang pakai sarung, pakai kolor. Tak ku lihat siapa cewe yang ku pandang saat pertama kali kesini, "mungkin dia hanya lewat waktu itu" pikirku. Waktu berlalu begitu saja hari kedua ku mulai terbiasa kegiatan baruku rutin 4x seminggu.
Terdengar sapaan hai di telingaku ku tengok agak asing tak ku lihat wajah ini kemarin. Yah sebut saja dia IHYA, ternyata baru saja daftar disini. Akulah orang pertama yang dikenalnya disini dan jadi teman baik sampai sekarang, lama berbincang kita masuk diikuti sang Tutor (Guru) dan pelajaran pertamapun dimulai. "Huft membosankan ternyata" gumamku sembari melirik-lirik sekeliling ruang kelas, nampak sudah cewe yang pernah kulihat pertama. "Wah ternyata dia juga murid disini, sekelas pula" dalam hatiku berkata. Sempat ku tancap kaki ini menuju kursi duduknya yang agak jauh dia didepan aku dibelakang, ku coba memperkenalkan diriku, belum terdengar sahutanya ku tanyakan rumah tinggal dia namun tak terjawab sepatah katapun untukku. Hanya terlihat lirikan matanya yang tajam penuh acuhan, seakan enggan mengenalku. Rasa malu itu kambuh lagi, kembali ku ke tempat dudukku dengan hati kesal akan kegagalan dalam perkenalan. Akupun terfokuskan buku pelajaranku di meja belajarku tanpa menoleh kanan kiriku meski tak jarang aku memandangnya sesekali. Hari H telah tiba aku kembali ke Jakarta untuk melanjutkan kegiatanku sehari-hari yang penuh penat. Untunglah hari terakhir sebelum keberangkatanku, aku telah dapatkan nomor telepon salah satu murid PKBM, agar tak ketinggalan pelajaran selama aku di Jakarta. Aku pintai semua nomor murid di PKBM, tak sedikit aku di berinya mungkin separuh murid di kelasku aku memiliki nomornya namun hanya beberapa saja yang ku kenal secara pasti. Karena hanya seminggu aku rutin saat itu, akupun belum mengenali satu persatu. Lewat nomor telpon aku kenali satu persatu hingga keakraban terjalin sesama murid meski aku belum tepat menebaknya satu-satu, setidaknya sudah kenal.
Sebut saja dia Ratu (nama disamarkan). Aku lebih sering komunikasi denganya meski belum tau pasti yang mana dia dikelas. Hampir setiap hari aku sms, tak jarang dia yang memulai percakapan via sms. Yang lain tak terlalu sering hanya sekedar tanya kabar. Dengan sms hubungan kita terasa semakin akrab saja sampai sering kali kita saling curhat bukan hanya tentang pelajaran namun tentang asmara pun kita tak malu-malu
tuk mencurahkan manis pahitnya. Sampai muncul rasa ibaku saat dituturkanya kisah terpahitnya. Dari ibaku timbul rasa yang lebih, untuknya. Sampai-sampai aku belikan kartu perdana baru untuk bisa mendengar suaranya karena operator kita berbeda hingga komunikasi kita hanya sekedar sms. Komunikasi kami pun terjaga hingga ahirnya aku pun telah lama di Jakarta dan harus pulang kampung kembali. Seperti biasa karena dikampung aku tetap melakukan rutinitas jam 5 soreku di PKBM. Dengan rasa penasaran yang lumayan Guede aku bergegas melaju ke PKBM untuk mengenal siapakah Ratu itu. SMS ku kirim padanya menegaskan kepulanganku dari Jakarta.
Sembari mengucap salam akan jumpa di PKBM. Masya Allah selama ini yang sms aku tiap hari tak lain adalah cewe yang pertama ku lihat di PKBM pertama kalinya. Tak pikir panjang aku hampiri dan sapa dia, jauh berbeda dari sebelumnya. Kini dia menjawab Tidak ditemukan hasil untuk sapaanku. Hehehe jelas saja dia sudah tau aku sebelumnya via sms. Kedekatan itu terjalin kuat sampai ku pun kembali ke Jakarta setelah seminggu di kampung. Jujur saja aku menyayanginya namun belum sempat ku utarakan, aku takut kedekatan itu akan hilang hanya karena aku menyayanginya. Ku simpan saja dalam-dalam dalam hati, berharap akan ada waktu yang tepat untuk mengungkapkanya. Seperti biasa hari-hariku dihiasi percakapanku denganya via sms. Berlangsung terus-menerus. Sampai suatu hari percakapan itu terhenti entah apa sebab musababnya. Aku pun sempat bertanya-tanya ada apa gerangan padanya, tak jarang ku coba awali dengan smsku, namun tak sering dia membalas smsku, hanya sesekali saja, smsnya pun seakan terlihat cuek. Hanya secukupnya saja untuk menjawab. Itu berlangsung lama dan sampai kami pun sudah hilang komunikasi sama sekali. Hari-hari tak lagi ada sms darinya. Kembali seperti dulu bekerja dan hanya bekerja tanpa hias. Hari Raya telah tiba, kini kepulanganku agak lama, aku sebulan penuh dirumah, dan rutinitasku pun terjaga di setiap soreku. Ku lihat dia dibalik pintu kelas sedang duduk terpaku memandangi buku-buku di depanya. Aku mendekat menyapa dan bertanya-tanya kabar. Entah apa yang terjadi ia kembali seperti saat pertama ku mengenalnya, cuek tiada tara.
Sudahlah, , , aku tak berpikir panjang soal itu. Ku jalani hariku tanpa berpikir macam-macam denganya. Aku abaikan semuanya. Kini ku hanya fokus sama pelajaran. Tiba-tiba saja di sms aku, agak girang ke'G-R'an aku sms darinya kembali masuk. Kita bercakap belum lama dia menanyakan nama seseorang yang tak lain adalah teman sekelasku, agak kesal si sms itu. "Kenapa dia nanya gitu yah" umpatku dalam hati. Udahlah aku jawab aja apa yang ku tau saja, percakapan itu terhenti setelah dia tau tentangnya dariku, dan terhenti untuk selamanya. Dengan akhir kata darinya "jangan bilang-bilang padanya kalau aku tanya-tanya tentangnya". Yah. . . Aku masih ingat terus kata-kata itu hingga sekarang.
Sekarang entah apa yang terjadi padanya, setiap kali aku di kampung dan berangkat PKBM tak pernah aku melihatnya, meski belum mengundurkan diri dari PKBM kata teman-temanya. Sejak saat itu tak pernah lagi ada komunikasi. Seakan hilang begitu saja. Namun sempat ku menyapa dalam sms, namun jawabanya tak pernah ku dapat, sesekali dia menjawab namun dia tak tau siapa aku. Oke lah mungkin nomorku telah dihapus karna tak berkabar lama. Namun setiap aku tegaskan siapa aku, tak lagi dia mau membalasnya sesekali dia balas dengan kata-kata yang pedih "jangan sms atau telpon aku lagi". Itulah ucapan dia setiap aku sms dia. Bingung bercampur kesal terus menertawaiku dalam pikiran. Aku terus berpikir dan terus berpikir apa yang terjadi padanya. Padahal belum sempat aku ungkapkan perasaanku sesungguhnya padanya. Dalam sesalku aku terus memarahi diriku sendiri andai saja dulu ku utarakan saja mungkin takan seperti ini. Hilang tanpa bekas, tanpa kenangan, dan tanpa kebenaran yang kudapat.
Kini aku terus berdoa dan berharap suatu saat aku temukan kejanggalan antara kita dan dapat kembali keakraban seperti dulu. Kisah ini aku alami sendiri tanpa rekayasa. Mungkin salah satu teman yang baca ini tahu siapa Ratu yang ku maksud.
Salam Kuda. Sultan Faranaza

