![]() |
IKHLAS HATI |
Masih terlalu dingin rasanya udara yang menyapu jalanan lalu lalang menemani derap langkahku menuju tempat tunggu bis yang akan aku naiki. Dari belakang terdengar suara wanita tua memanggilku. Sejenak aku berhenti dan menoleh kebelakang. Terlihat sosok wanita tua dengan anak kecil digandengnya dengan pakaian lusuh, dekil, dan agak bau (mungkin belum mandi) melambai ke arahku sambil menghampiriku si ibu itu menyapaku
ibu : "maaf nak, boleh ibu minta tolong tidak?"
aku: "mmm. . . Minta tolong apa yah?"
ibu : "begini nak, ibu tidak punya uang! Ibu boleh minta uang tidak, sekedar buat beli bubur saja!"
Aku bingung mau jawab apa, sedangkan aku sendiri hanya pegang duit 15rb. Untuk ongkos PP saja 8rb, sisanya buat makan siang.
aku: "Maaf banget ya bu, saya tidak punya uang"
ibu : "ya sudah, maaf yah nak sudah mengganggu"
aku: "yah" sambil berlalu jalan meninggalkan si ibu tua itu.
Aku sempat berpikir, "sungguh kejam aku ini" belum jauh berjalan aku melihat tukang bubur dijalan. Ku tengok ibu sudah mulai jauh berjalan. Tanpa pikir panjang aku mampir ke tukang bubur, pesen satu porsi. "cepetan bang, dah telat nih" pintaku agar lebih cepat membuat buburnya, ku lihat ibu itu sudah semakin jauh. "sabar ya," dan "ini mas, Rp6.000,- mas". Langsung saya kejar ibu itu dan ku berikan bubur yang kubeli untuk anaknya si ibu itu.
aku: "bu. . .bu. . . Tunggu bu". Sambil berlari aku memanggilnya"
ibu : "ya nak, ada apa"
aku: "ini bu, bubur buat si ade, maaf yah bu tadi aku bilang tidak punya uang"
ibu : "terima kasih nak, yah gak papa nak, terima kasih banyak sudah repot-repot belikan bubur.
Semoga Allah membalas kebaikan mas. Amiin".
aku: "sama-sama bu, ya sudah bu aku tinggal yah"
ibu : "iya nak"
Sambil jalan aku meninggalkan si ibu dan anak itu, tiba-tiba aku menangis. Entah kenapa mengingat wajah gembira ibu itu sambil mendoakanku, aku meneteskan air mataku. Aku begitu terharu mengingat kejadian itu.
Sudahlah aku lupakan, nampaknya sudah ada bis yang menunggu. Langsung saja aku naik. Pikiranku kosong selama di bis sampai-sampai tak sadar sudah sampai tujuan. Aku tiba lebih awal dari temanku, langsung aku kerja seperti biasa sambil menunggu temanku datang.
Tiba-tiba kakaku yang di bekasi meneleponku, menyuruhku untuk mampir kerumahnya. Tidak tau ada apa gerangan kakaku menyuruhku kerumah. Aku bingung, ongkos darimana. "Ya Insya Allah aku mampir pulangnya" jawabku sambil menutup telepon.
Terpaksa siangnya aku break eat, biar cukup untuk ongkos ke Bekasi. Sorenya saya berpisah lagi dengan temanku, sekarang giliran temanku yang pulang ke Sunter dan aku mampir ke kakaku.
Esok hari aku berangkat dari Bekasi pagi-pagi. Lumayan jauh jadi agak siang nyampe ke tempat kerja. Pas sampai ke tempat kerja, seperti biasa aku datang lebih awal. Yah... Temanku emang kesiangan mulu berangkatnya, makanya meskipun aku telat juga datengnya tetep paling awal.
Temanku datang sambil bawain kopi, "wahhh. . . . Mantap tau aja lo yah" ejekku sambil menyambut kopi hangat bungkusan dari teman. Sambil ngopi temanku bilang
temanku: "untung lo ke Bekasi"
aku : "kenapa emang?"
temanku: "lo liat aja tuh HP gw, rusak, ancur!"
aku : "ko bisa ancur gini"
temanku: "kemaren pas pulang, bis yang gw tumpangin exis di jalanan"
aku : "exis gimana maksudnya"
temanku: "yah exis, kecelakaan maksudnya. Gilaaaa ngejar dua bis ampe gak ngeliat ada tanjakan.
Ya udah terbang dah bis yang gw tumpangin"
aku : "terus gimana? Lo gak papa!"
temanku: "gw si gak papa, tapi hp gw tuh jadi ancur. Untungnya si gak sampe jatuh bisnya, cuma
terbangnya doang yang tinggi sampe2 pendaratanya bikin penumpang pada tumpah
semua termasuk gw. Gw dah jatuh ketimpa penumpang yang lain lagi, dua lagi
sekaligus, pas hp gw ke injek lutut" gw, yah ancur dah jadinya.
aku : "kasian amat lo"
temenku: "huuuw. . . Dasar lo, temen sengsara malah di kasianin. , pijitin sini, pegel-pegel semua
tau badan gw"
aku : "ya udah sini gw pijitin biar tambah pegel" sambil ketawa dikit, , , kita lanjutkan kerja
masing-masing.
Aku teringat kejadian sebelumnya. Mungkin gara-gara doa si ibu yang aku beri bubur itu lah yang menghindarkanku dari bahaya. Subhanallah. . . Sampai-sampai tak kuasa aku menahan air mata, teringat akan raut wajah ibu dan anak itu. Betapa mulianya dia mendoakanku, aku sendiri tidak pernah berdoa untuk keselamatanku sendiri. Dari kejadian itu aku mulai membuka hati dan menjalani apa yang menjadi kewajibanku sebagai Hamba Allah.
Pesan Moral dari Saya: Berapapun nilainya, ikhlaskan untuk beramal niscaya bermanfaat.
Cerita ini nyata terjadi pada tanggal 30 juni 2012.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar