"Tan, mau kopi gak?". Teriak Aril mengagetkannya yang sibuk dengan
kerjaanya. Aril adalah teman kerjanya di Sinar Mas. Meski bukan satu
grup tapi mereka akrab lantaran sering ketemu tiap hari. Dia selalu
datang tiba-tiba dan mengejutkan Sultan, sudah menjadi hobi baginya
bikin kaget orang.
Rambutnya lurus panjang. Dengan pita kupu-kupu menghiasi mahkota
kepalanya. Senyum itu membuat Sultan mengabaikan omongan Aril. Matanya
terpaku memandangi gadis pengantar kopi yang berjalan kearahnya.
"lo suka yah? Dia Yuli namanya". Ujar Aril melihat ekspresi Sultan
yang mengabaikanya lantaran melihat gadis pengantar kopi tersebut.
"Kopi........." teriak Aril, mengambil kopi yang ia pesan.
"Satu lagi yah! Buruan!" perintah Aril pada gadis tersebut.
"lo kenapa tan, diem aja daritadi. Gw ngomong dicuekin".
"gak apa-apa ko, cuma cape aja" jawab Sultan dengan nada datar seakan pandai berbohong.
Waktu dilihatnya sudah jam 3 sore, kopi pesenan sudah datang. Mereka menghabiskan jam kerjanya dengan leha-leha.
Masih penasaran dengan gadis kantin pengantar kopi bernama Yuli itu,
ia menjadi keseringan pesen kopi di kantin tersebut. Yang sebelumnya ia
sudah berlangganan di kantin yang lain.
Esok hari ia sengaja pesen kopi lebih awal dari Aril. Saat kopi tengah sampai, ia mencoba berkenalan dengan Yuli.
"Nama kamu siapa sih?" tanya Sultan saat Yuli memberikan kopi pesenanya.
"namaku Yuli, Yuli Puspita. Biasa dipanggil Pus". Jawabnya agak malu-malu.
"owh,, namaku Sultan. Tar siang juga anterin kopi lagi yah".
Perintahnya agar ia bertemu terus tiap hari. Sultan pandai mengatur
siasat. "oya ni duitnya".
"ya mas... Mas Sultan" ujarnya dengan nada ejekan. Dan berlalu.
Sultan kembali bekerja. Ia kini lebih semangat. Entah apa yang
merasukinya. Setelah mengenal Yuli, hari-harinya menjadi penuh drama.
Terkadang bernyanyi-nyanyi sendiri saat kerja, nampak kegembiraan
terpancar dari lantunan-lantunan lagu yang ia nyanyikan. Aril senang
melihat Sultan nampak makin akrab dengan Yuli.
Suatu malam Sultan berkunjung kerumah Aril, komplek Daan Mogot.
"Yuli gimana? Makin deket aja lo ma dia". Tanya Aril membuka ruang obrolan.
"lo juga keliatanya deket banget sama Tirah". Balasnya balik tanya.
"Eh ketempat Yuli sama Tirah yuk?" pinta Aril tanpa menjawab pertanyaannya.
"lo tau tempatnya dimana?"
"gw sering ketemuan sama Tirah. Ayo buruan".
Sultan dan Aril, mereka berdua pergi seketika itu. Menuju ke tempat
Yuli dan Tirah. Tidak jauh dari rumah Aril. Hanya berkisar 1km saja.
"aku tunggu di taman biasa yah. Buruan". Suara Aril ditelepon genggam Tirah. Sambil
menutup telpon Aril dan Sultan menuju ke taman tersebut. Tempat biasa
Aril dan Tirah janjian.
Tak lama mereka datang. Tirah dan Yuli menghampirinya. Sembari berjabat tangan. Sultan mengajak Yuli menjauh dari mereka berdua.
"kesana yu, agak jauhan dikit". Ajak Sultan sembari menggandeng tangan Yuli tanpa malu-malu.
"mau ngapain? Disini aja kenapa sih" jawabnya dengan berusaha menolak permintaan Sultan itu.
"udah ikut aja, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu"
mereka berjalan. Menjauh dari posisi Aril dan Tirah. Mencari tempat yang lebih nyaman disekitar taman mereka berjumpa.
"mpuuz" panggilnya mesra penuh cinta. Sultan tak pernah memanggil ia Yuli. Namun ia lebih nyaman dengan menyebutnya Mpuuz.
"ada apa?"
"aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacar aku"
Yuli tak menyangka Sultan akan menyatakan cinta padanya. Ia memang
tau perhatian Sultan lebih condong padanya dibanding teman-teman lainya.
Yuli diam. Beberapa menit terdiam.
"aku gak bisa jawab sekarang".
"kenapa?"
"kamu gak tau siapa aku. Kita baru kenal sepekan ini gak mungkin
kamu semudah itu nyatain cinta". Matanya berbinar, hampir ia menangis.
Entah itu tangis bahagia atau tangis kesedihan.
"kita memang baru kenal. Tapi aku sayang sama kamu. Semenjak
pertemuan itu. Semua pertemuan berikutnya hingga sekarang, menjadi
pertemuan yang bermakna bagiku. Aku sadar, aku membutuhkanmu. . . Karna
aku mencintaimu".
"aku sudah punya tunangan di kampung. Sesungguhnya aku juga memiliki rasa yang sama padamu. Tapi aku tak bisa melakukan itu. Aku sudah
punya tunangan dan dia adalah abangnya mba Tirah". Ia
menjelaskan semuanya. Matanya tak dapat membendung air
matanya.
"tapi aku sayang sama kamu
Mpuuz, aku gak peduli kamu telah
bertunangan". Sultan memberi
kepastian padanya. Berharap Yuli
mau menerima cintanya.
"aku bingung. Okelah aku terima
tapi dengan satu syarat".
Jawabnya dengan terisak-isak.
"apapun syaratnya, aku terima"
jawab Sultan meyakinkanya.
"jangan pernah kehilangan jika
aku kembali ke orang yang lebih
dulu mengikat jariku dengan
cincin, karena suatu saat kita pasti
berpisah".
"baik. Akan kucoba" tegas sultan.
Meski tau Sultan tak akan sanggup
kehilangan Mpuuz. Namun terpaksa ia
menyanggupi syarat itu. Dengan
harapan takan pernah ada kehilangan itu terjadi.
Sultan memeluknya. Dengan
memejamkan matanya. Hatinya
berbunga-bunga riang gembira.
Seketika itu dalam pelukan.
Jam tangan diliriknya. Waktu mulai
nampak malam. Mereka
menghampiri Aril dan Tirah yang
sedari tadi ia tinggalkan.
Setelah berpamitan mesra Aril dan
Sultan pun pulang kerumah
masing-masing.
Dijalan Sultan terus memikirkan
Mpuuz. Betapa bahagia dia saat
itu. Memiliki kekasih yang sangat
ia cintai. Lamunannya tak ubah-ubahnya
hanya tentang Yuli. Gadis yang ia
panggil Mpuuz.
Tit. . . Tit. . . Handphone'nya
berdering tanda sms masuk.
"kuda, hati-hati dijalan yah". Satu
pesan singkat dari Yuli dengan sapaan mesranya. Ia tersenyum.
Dalam hati ia terus memuji-muji
Yuli, kekasih barunya itu.
Esok hari sejak malam itu. Ia
semakin rajin pesen kopi, demi
sekedar melihat wajah ayu dari
sosok dengan sebutan Mpuuz itu.
Tak jarang ia suka kelupaan, sudah
pesen entar pesen lagi.
Malam itu ia mampir ke Mall
mencari sesuatu untuk Mpuuz. Yah
boneka kuda adalah incaran utamanya. Sesuai sapaan akrab
Mpuuz, dengan memanggil Sultan
dengan sebutan Kuda.
Kesana-kemari semua toko
boneka dihampirinya. Nampaknya
ia kesulitan mencari kado spesial
untuk kekasihnya itu. Tak ada
satupun boneka Kuda yang
nampak di penglihatanya.
Ia melihat satu boneka yang
bukan incaranya, namun cukup menarik perhatiannya.
Boneka Kucing dengan warna
putih hitam kuning. Ukuran yang
sama persis dengan kucing
sungguhan. Dengan bulu-bulu
halus tertata rapi bak bulu kucing
peliharaan.
Ia menjadikan boneka kucing tersebut sebagai
pilihan keduanya, disela kebingungannya. Boneka kucing
itu sama menariknya dari boneka
kuda incaranya. Sesuai panggilan
mesranya "Mpuuz". Iamempersembahkan ya untuk si
Yuli.
Keesokan harinya ia dipindahkan
kerja. Ia ditugaskan untuk kerja di
Pulogadung untuk beberapa hari.
Kado yang ia siapkan, yang belum
sempet ia kasihkan. Ia titipkan
sama temennya Sabar yang masih
bekerja di situ. Untuk
memberikanya kepada gadis
pengantar kopi.
Sengaja ia memesan kopi. Padahal
ia di Pulogadung kala itu. Tapi ia
memesankan kopi untuk temenya Sabar.
Sudah ia rencanakan matang-matang. Dalam keadaan seperti itu
ia mampu berpikir jernih.
"halo" Sapa Sultan dari kejauhan
sana di telepon genggam Sabar.
"tadi aku pesen kopi, tar kalo tukang kopinya datang tolong kasihkan
kado yang ada di tas gw ke dia
yah. Itu kopi kamu minum aja.
Udah gw bayar tadi pagi sebelum
pergi".
"oke wa, tenang aja. Thanks ya wa
kopinya". Jawab Sabar yang sudah
tau akal Sultan dengan
meyakinkan.
Beberapa menit setelah telpon
berahir. Yuli datang menemui
Sabar.
***
"kopinya mas"
"oke mba, makasih. Nih titipan dari
Sultan". Sambil menyerahkan
kadonya.
Yuli segera turun. Kembali ke
kantin tempat ia bekerja. Dengan
buru-buru ia melangkah. Sesegera
mungkin ia ingin membukanya.
Dilihatnya boneka Kucing dari
dalam dus berbusana kertas hias yang
ia buka. Dengan selembar Surat
yang tertulis beberapa kalimat.
Bertanda tangankan Sultan Kuda.
***
Harap-harap cemas di benak
Sultan. Terus memikirkan Mpuuz
nan jauh disana. Keresahan
melanda detik-detik waktunya di
Pulogadung.
Tit. . .tit. . . .
"makasih yah Kuda Bonekanya".
Ucapan terimakasih telah sampai
di HP'nya. Tanda kado telah
sampai di tangan Yuli.
Dua hari di Pulogadung ia merasa
dua tahun lamanya tak jumpa
dengan Mpuuz.
Sultan kembali ke Roxy Square.
Tugasnya di Pulogadung telah
usai. Rasa rindu sudah mencapai
di puncak ubun-ubunnya.
Segeranya ia menemui Mpuuz di
kantin. Untuk mengobati
kangenya akan senyum manis
manja pujaan hatinya itu.
Baru sehari di melepas Rindu. Ia
kembali di tugaskan untuk kerja
diluar lagi. Kali ini di Daan Mogot.
Agak dekat dari tempat tinggal
Mpuuz.
Beberapa hari kerja dengan beban
rindu yang tak tertahankan. Ia
mendapati kabar Yuli tak lagi
bekerja di kantin Roxy Square.
Mendapati kabar Yuli akan kembali
ke kampung halamanya di
Lampung.
***
"Kuda, malam ini aku mau pulang
kampung, travelnya akan jemput
jam 8 malam". Mendengar kabar
Mpuuz dikejauhan sana di telepon.
Membuat Sultan jatuh bangun
mencari jalan. Agar bisa
menemuinya di sisa-sisa
waktunya.
Jam 7 malam dilihatnya di tangan.
Ia nekat pergi dari tempat ia kerja.
Demi menemui sang kekasih hati.
Resah dan gelisah terus
berkumandang hebat di relung
hatinya selama perjalanan menuju
taman Tapak Siring tempat
dimana ia mengungkapkan
cintanya.
Tak bosan-bosanya ia mengirim
pesan singkat untuk Yuli. Bahwa
ia akan datang secepatnya.
Berharap Yuli menunggunya di
Taman tersebut.
"30 menit lagi Saya bakal
terlambat". Ia lari sekencengnya.
Jalan menuju taman agak jauh dari
jalur angkutan umum. Yang
memaksa ia harus berjalan lagi
untuk ke taman. Tanpa kenal lelah
berlari tiada henti. Sampai tiba di
taman ia baru berhenti.
Dikirimnya pesan singkat bahwa
ia telah sampai.
"Mpuuz. . . Kuda sudah di taman.
Mpuuz buruan kesini". Begitu
pesanya.
Beberapa menit kemudian Yuli
datang seorang diri. Dengan
membawa Meong kado darinya.
Berjalan kearahnya.
Nampak raut wajahnya tersirat
kesedihan yang mendalam.
"Mpuuz kenapa? Kaya habis
nangis!" tanyanya penuh
perhatian.
"aku takut kuda,, aku takut kita
gak jumpa lagi". Jawabnya seraya
mencurahkan kegalauanya.
"kenapa Mpuuz harus pulang sih?
Kenapa dengan pekerjaan disini,
kenapa berhenti?" Ia mencoba
menenangkanya.
"gak tau, bosnya udah menutup
kantin. Ya mau gak mau Mpuuz
gak punya kerjaan lagi, dan harus
pulang. Mba Tirah juga".
"terus hubungan kita gimana?
Maafin kuda, kuda gak bisa
menyanggupi syarat yang dulu
Mpuuz kasihkan. Ini terlalu cepat.
Kuda terlalu sayang sama Mpuuz."
"kuda janjikan. Akan memenuhi syarat
itu. Kenapa sekarang bilang gak
bisa? Ini sudah takdir kita Kuda. Kalau
toh kita jodoh pasti akan bertemu
kembali".
"kuda gak bisa kehilangan Mpuuz.
Mpuuz jangan pergi, kuda akan
carikan pekerjaan buat Mpuuz,
mba Tirah juga. Kuda janji. Please
Mpuuz jangan pergi".
"maaf kuda, Mpuuz gak bisa lagi.
Dan mulai sekarang hubungan kita
juga harus berahir sampai disini. Mpuuz
harus kembali ke Yuli yang dulu.
Yuli sudah punya tunangan di
kampung. Mpuuz gak bisa terus-terusan begini".
Yuli pergi meninggalkan Sultan
sendirian. Sultan duduk sendirian
di taman. Tak dapat mengejarnya. Pikiranya seketika itu kacau tak
karuan. Pandanganya buram,
kepalanya semakin terasa pening.
Hanya terdiam. Tak menghiraukan
rumput-rumput kecil yang
menertawakanya. Perasaanya
hancur. Mendengar keputusan Yuli
bak tersambar petir disiang
bolong.
Tirah menghampirinya. Mencoba
menenangkanya. Tirah yang tau
calon kaka iparnya itu tengah
menjalin cinta dengan Sultan tak
membuat dia membenci Yuli dan
Sultan. Malahan mendukungnya.
"sudahlah Menyuul" tegurnya
mencoba menghibur, dengan
panggilan khas'nya. Ia selalu
memanggil Sultan dengan sebutan
"Menyuul" begitu juga Sultan
memanggil Tirah dengan sebutan
"Menyuul".
"mbak Yuli sebenernya sayang
banget sama kamu Nyuul. Tapi
mau gimana lagi. Seandainya saja dia
tak kenal dengan abangku dulu.
Seandainya saja dia gak ada hubungan
dengan abangku. Pasti takan begini endingnya. Menyul yang
sabar yah.... Badai pasti berlalu".
"makasih yah Nyuul. Kapan kita
semua bisa ketemu lagi? Kalian
pasti ke Jakarta lagi kan? Janji yah,
kalau kalian pasti ke Jakarta lagi".
Ujar Sultan dengan nada
memohon.
"iya, kalau ada kerjaan pasti ke
Jakarta ko".
Tirah pun pergi meninggalkan
Sultan sendirian.
Tatapanya kosong. Tanpa arah
dan tujuan.
Yuli mengirim pesan
singkat. "Kuda, selamat tinggal
yah. . . Mpuuz akan selalu
ngejagain Meongnya. Sampai ahir
hayat,, Meong dari Kuda bakal Mpuuz bawa kemanapun Mpuuz
pergi. Sebagai bukti cinta kita. Dan
bukti pengorbanan Kuda untuk
cinta ini".
Dilihatnya Bus Travel itu masih
terparkir. Sultan segera keluar
taman. Menunggu di gerbang
komplek. Bermaksud mencegat
bus itu untuk melihat Mpuuz
untuk yang terahir kalinya.
Bus itu melintas didepanya. Tidak
jauh bus itu berhenti. Yuli keluar
menghampiri Sultan.
"kuda,,, jangan menangis yah.
Sampai bertemu lagi suatu saat
nanti".
"Mpuuz......"
"ya Kuda, ada apa"
Dipeluknya erat-erat. Yuli tak
dapat mengelaknya. Ia
membiarkan kekasihnya
mencurahkan kesedihanya lewat
pelukan itu.
"woiii. . . . Buruan. . . . Udah malem
nih". Sela supir bus itu beserta pewnumpang lainya merusak
suasana romantis itu.
"kuda, nih foto Mpuuz. Simpan
baik-baik yah. Maafin Mpuuz,
mpuuz gak bisa ngasih apa-apa.
Semoga foto ini bermanfaat buat
kuda. I will always love you.
Forever".
"me to. Forever".
balasnya dengan mengecup kening Yuli.
Yuli kembali ke bus yang tengah
menunggunya. Ia terus
melambaikan tangan sampai
benar-benar tak terlihat lagi
olehnya di penghujung jalan.
Sultan pun melangkah lunglai
tanpa harapan. Tatapan matanya
kosong. Tak terarah jalanya.
Hampir saja sang pengendara
motor menyerempetnya. Namun
tak dipedulikanya.
Ia sadar, bahwa kehilangan itu
benar-benar terjadi. Setelah
sebelumya tak pernah menduga
bahwa perpisahan itu tak akan pernah terjadi.
Perpisahan itu membuat ia merasa
terpukul. Hari-harinya hanya
gelap. Tiada terang. Tiada bintag.
Tiada rembulan.
Hitam pekat menyelubungi semua
pikiranya.
Hampa. Berhari-hari berminggu-
minggu berbulan-bulan ia hanya
mengurung diri. Tiada lagi tawa di
bibirnya. Tiada lagi suara di
mulutnya.
Ia menghilang. Ia kabur dari
kerjaan. Mencoba menenangkan
diri di tempat kerja temanya di
Klender.
Semua orang mencarinya, sengaja
ia matikan nomer ponselnya.
Setelah beberapa hari di tempat
temenya. Ia memutuskan pulang
ke kampung halamannya.
Mencoba melupakan kenangan
tentang gadis pengantar kopi
yang tengah menghantuinya
setiap hari.
"selamanya kau akan ku cinta
Mpuuz. Selamanya kau akan ku
kenang. Meski cinta kita sangat
singkat. Tanpa episode, tanpa
jeda, tanpa space. Namun hanya
kaulah cinta terindahku".
Ia menuliskan sebuah surat pada
selebaran kertas yang ia lipat-lipat
menjadi sebuah pesawat kertas.
Saat bus yang mengantar ia
pulang itu mulai jalan. Ia
terbangkan pesawat kertasnya.
Dibiarkanya terbang melayang di udara bersama masa-masa indahnya dengan Yuli.
Dalam hatinya mencucapkan salam perpisahan.
"Selamat tinggal Jakarta. Selamat
tinggal Mpuuz.
Putri MeongKu
Kuda.
The End.
Karya Sultan Faranaza
Sabtu, 06 Oktober 2012
Dampak Facebook (Surosoti)
Situs jejaring
sosial Facebook adalah situs yang sangat populer. Semenjak akses gratis
via seluler itu diberlakukan. Facebook menjadi media komunikasi nomer
satu dikalangan pemuda-pemudi seluruh dunia.
Suro dan Soti, salah seorang pekerja di Proyek Bank Sinarmas di sekitar ITC Permata Hijau Jakarta Selatan. yang tengah kecanduan Situs nomer satu itu.
Suatu malam mereka ingin memanjakan hobi barunya itu di sebuah Warnet yang tak jauh dari tempat kerjanya itu.
Dengan asiknya mereka memandangi foto-foto gadis nakal, kadang image selebriti mereka pelototi. Dengan giatnya membaca status-status teman mayanya di Beranda. Tak jarang mereka iseng memberi komentar jail. Demi menambah suasana tambah seru di depan layar komputer.
Berjam-jam duduk terpaku di depan layar semu. Semakin larut terasa saat mata mulai mengantuk. Terpaksa mereka mengahiri aksi manja itu.
Sambil berbincang-bincang mereka menuju pulang. Berjalan santai di atas aspal dengan langkah lunglai.
Sembari ngobrol kesana-kemari. Jalanan yang semakin sepi mereka tidak peduli.
Sampai pada persimpangan jalan mereka berhenti. Dua pemuda berkendara motor tak dikenali tengah terlihat sedang memanggil dan mulai menghampiri.
"maaf mas. Kalian lihat ada pemuda yang lewat sekitar sini gak?" tanya pemuda asing itu kepada Suro dan Soti.
Suro dan Soti diam. Menggelengkan kepala tanda tak tau. "kami tak melihat seorangpun sedari tadi". Jawabnya. "ada apa yah?" lanjut Suro.
"mas tau gak ada kecelakaan gadis yang jatuh dari motor?" jelas si pemuda itu. "Dia adik saya, katanya ada cowo yang iseng ngeledekin dia dijalan sekitar sini. Sampai dia kehilangan kendali dan terjatuh" jelas sang pemuda kepada Suro. "dan bukanya di tolongin, malah di pegang-pegangin payudara adik saya yang jatuh kesakitan tertindih motor". Lanjutnya.
"gw lagi nyari pemuda brengsek itu. Gw gak terima adik gw dilecehin gitu." lanjutnya lagi dengan memperlihatkan keamarahanya.
"owh dengan begitu berarti mas ini menuduh kami berdua gitu?" timpal Suro. Soti hanya diam saja, menatapi satu persatu wajah yang berbicara itu."maaf mas, kami bukan orang seperti itu". Tambahnya. "Sory mas,, permisi gw mau lewat". Pinta Suro sambil melangkah.
"mas, kami memang belum tau pemuda itu. Yang tau cuma adik saya, dia lagi terbaring kesakitan dirumah". Jelasnya dengan menghalau Suro dan Soti.
"kalau mas bukan pemuda yang kami maksud. Mas bersedia ikut saya ke tempat adik saya". Pintanya memojokan Suro. "cuma memastikan saja mas. Dari tadi saya tidak melihat ada pemuda lain selain mas-mas ini". Tegasnya meyakinkan Suro.
"kalau memang adik saya tidak mengenali mas-mas ini. Berarti memang bukan kalian yang saya cari" tambahnya.
"siapa takut" jawab Suro tegas. Demi membela harga dirinya ia mengikuti permintaan pemuda tak dikenali itu.
"oya mas, dirumah sudah banyak warga yang menunggu, mereka semua dalam emosi besar. Jadi mas harus bersikap tenang yah. Jangan memancing amarah mereka. Sudah ada sebelum mas dan ternyata dia bukan pelakunya, namun sikapnya membuat para warga marah. Alhasil naas dia dikeroyok masa". Terangnya blak-blakan.
"untuk menghindari itu, mas titipkan saja barang-barang mas ke temen mas ini. Seperti handphone, dompet, dll. Biar temen mas nunggu disini sama temen saya ini". Pinta pemuda itu kepada Suro.
Satu pemuda itu dan Suro pun pergi. Setelah sebelumnya Suro telah menitipkan dompet dan HPnya ke Soti sesuai anjuran Si Pemuda malang tersebut. Sedang Soti dan pemuda satunya lagi hanya menunggu mereka.
Suro hanya diam. Dalam perjalanan ia terus memikirkan insiden yang tengah ia alami. Tanpa ada pikiran negatif. Hanya sikap bijak yang ia tangguhkah sebagai tanggung bukti atas tuduhannya itu.
Di tengah perjalanan Si pemuda berhenti sejenak. Ia minta ijin untuk buang air kecil sebentar. Suro mengiyakan. Dan pemuda itu pergi meninggalkan Suro untuk mencari tempat sepi untuk hajatnya.
***
Soti menanti-nanti. Harap-harap cemas akan hal-hal yang tak diinginkan menimpa Suro.
30 menit kemudian pemuda berkendara motor itu kembali.
"Temen gw mana?" tanya Soti menyambut kedatangan pemuda tersebut yang datang seorang diri.
"temenmu masih dirumah saya. Sengaja aku tinggal. Adik saya ingin melihatmu juga". Jelasnya kepada Soti.
Setelah berbincang-bincang. Soti dibonceng pemuda itu. Menuju tempat adiknya serta menjemput temanya, Suro.
"oya tadi temen lo pesen. Suruh jagain tuh HP dan Dompetnya". Sela pemuda itu di tengah perjalanan. "mending lo titipin aja entar sebelum sampai rumah gw. Di belakang rumah gw ada warung kecil. Lo titipin aja kesitu. Gw udah ngomong sebelumnya. Daripada lo kenapa-napa nantinya". Saran Pemuda itu dengan meyakinkanya.
***
"Lama banget sih, tuh orang. Kencing batu kali yah" gusarnya Suro dalam penantian.
"sudah hampir satu jam tapi gak ada batang hidungnya". Suro semakin panik.
"kurang ajar nih, gw kaya sudah ditipu mentah-mentah". Suro menyadari dirinya tengah tertipu. Ia segera balik.
Tak menghiraukan pemuda itu yang sedang kencing entah dimana. Sesegera mungkin ia menjemput Soti. "pasti ada apa-apa nih dengan Soti". Umpatnya dalam hati sambil berlari.
***
"kamu tunggu disini yah. Saya akan titipkan ke warung itu". Perintah dua pemuda itu kepada Soti dan pergi ke warung di seberang jalan.
Soti melihat mereka masuk ke Warung di Seberang. Ia memperhatikanny a secara teliti. Tidak ada perasaan was-was di hatinya.
Soti merasa tak enak kala itu. Tak ubah-ubahnya mata Soti menelanjangi wajah warung di depanya.
"lama banget si, ngapain aja mereka" gusarnya menunggu yang tak keluar-keluar dari warung.
Dalam hati kecil Soti merasa ia tengah tertipu. Namun ia tepiskan jauh-jauh pikiran negatifnya itu. Merasa memiliki tanggung jawab akan harta temanya itu. Ia urungkan niat untuk beranjak pergi. Meski prasangka buruk itu lebih condong dalam pikiranya.
"lho ko tutup" Soti terkejut warung yang ia perhatikan sedari tadi sudah akan tutup.
"permisi bu" sapa Soti kepada ibu pemilik warung yang tengah menutup rapat lapaknya.
"ada apa mas" sahut ibu warung itu.
"ibu tau pemuda yang masuk sini sejam yang lalu?" tanyanya
"pemuda yang mana mas. Banyak yang kemari. Ibu gak hafal satu-satu". Jawabnya heran.
"dia bilang rumahnya dibelakang warung ibu. Tadi dia masuk mau nitipin hp saya ke ibu". Jelas Soti melemah suaranya.
"dibelakang warung ibu memang ada pemuda. Tapi dia gak pernah kesini. Apalagi sejam yang lalu". Terangnya.
Soti merasa benar-benar kena tipu. Mendengar jawaban ibu warung yang tak tau apa-apa.
"yaudah bu. Permisi"
Soti mulai menyadari sepenuhnya. Ia tengah tertipu mentah-mentah. Rasa bersalah yang hebat menikam tajam batinya. Atas kelengahan menjaga amanat temanya.
Ia bergegas kembali ke persimpangan jalan dimana ia terpisah dengan Suro.
***
"brengsek. . . . " teriak Suro saat tiba di persimpangan. Tak ada Soti, tak ada pemuda satunya lagi.
"pasti nih Soti sudah dijebaknya. Duuuh HP dan Dompet gw...". Sadarnya.
Suro segera balik ke rumah. Sampai rumah ditanyakan semua teman-temanya.
"pada ngeliat Soti gak?" tanyanya pada temen kerjanya yang tengah asik nonton Bola.
"bukanya tadi bareng lo!" jawab salah seorang teman yang melihat mereka saat berangkatnya tadi.
Suro menerangkan kejadian yang menimpanya itu dengan panjang lebar. Dan mereka ahirnya langsung pergi mencari Soti.
Sudah jam 1 malam, Soti tak nampak juga. Ramai-ramai Suro dan kawan-kawanya terus mencari Soti.
***
"Apeeeees. . . . Apeeeees". "Brengseeeek". Teriak Soti dengan suara lantang di tengah jalan yang sudah sepi.
Soti melihat kawan-kawannya di penghujung jalan. Dan Suro juga ada di situ juga.
"itu bukanya Suro, kok sama temen-temen sih" Soti membatin.
Langkahnya sengaja ia percepat. Meski sangat lelah baginya kala itu. Yang tak mampu lagi untuk berlari.
Salah seorang yang tengah menengok ke belakang. Melihat Soti yang tengah kelelahan dalam langkah lunglai. Bergegas mereka berlarian menghampiri Soti.
"Soti, kamu gak apa-apa?" pertanyaan beruntun itu menimpa pendengaran Soti yang tengah melemah karena lelahnya.
Dirangkulnya Soti bareng-bareng oleh kawanya. Segera mereka balik kerumah.
Setelah sampai di rumah barulah Soti menjelaskan semua yang ia alami.
Suro yang iba melihat expresi Soti kala itu, tak tega menanyakan HP dan Dompetnya.
Soti yang merasa bersalah terhadap Suro, ia menjelaskan kepada Suro sedetail mungkin. Suro dan Soti menyadari. Yang menimpa mereka itu bukanlah kesalahan masing-masing. Mereka tak saling menyalahkan. Dan mengikhlaskan semua yang telah raib.
THE END.
Penulis
Sultan Faranaza
Cerpen lain di
www.csfaranaza.blogspot.com

Suro dan Soti, salah seorang pekerja di Proyek Bank Sinarmas di sekitar ITC Permata Hijau Jakarta Selatan. yang tengah kecanduan Situs nomer satu itu.
Suatu malam mereka ingin memanjakan hobi barunya itu di sebuah Warnet yang tak jauh dari tempat kerjanya itu.
Dengan asiknya mereka memandangi foto-foto gadis nakal, kadang image selebriti mereka pelototi. Dengan giatnya membaca status-status teman mayanya di Beranda. Tak jarang mereka iseng memberi komentar jail. Demi menambah suasana tambah seru di depan layar komputer.
Berjam-jam duduk terpaku di depan layar semu. Semakin larut terasa saat mata mulai mengantuk. Terpaksa mereka mengahiri aksi manja itu.
Sambil berbincang-bincang mereka menuju pulang. Berjalan santai di atas aspal dengan langkah lunglai.
Sembari ngobrol kesana-kemari. Jalanan yang semakin sepi mereka tidak peduli.
Sampai pada persimpangan jalan mereka berhenti. Dua pemuda berkendara motor tak dikenali tengah terlihat sedang memanggil dan mulai menghampiri.
"maaf mas. Kalian lihat ada pemuda yang lewat sekitar sini gak?" tanya pemuda asing itu kepada Suro dan Soti.
Suro dan Soti diam. Menggelengkan kepala tanda tak tau. "kami tak melihat seorangpun sedari tadi". Jawabnya. "ada apa yah?" lanjut Suro.
"mas tau gak ada kecelakaan gadis yang jatuh dari motor?" jelas si pemuda itu. "Dia adik saya, katanya ada cowo yang iseng ngeledekin dia dijalan sekitar sini. Sampai dia kehilangan kendali dan terjatuh" jelas sang pemuda kepada Suro. "dan bukanya di tolongin, malah di pegang-pegangin payudara adik saya yang jatuh kesakitan tertindih motor". Lanjutnya.
"gw lagi nyari pemuda brengsek itu. Gw gak terima adik gw dilecehin gitu." lanjutnya lagi dengan memperlihatkan keamarahanya.
"owh dengan begitu berarti mas ini menuduh kami berdua gitu?" timpal Suro. Soti hanya diam saja, menatapi satu persatu wajah yang berbicara itu."maaf mas, kami bukan orang seperti itu". Tambahnya. "Sory mas,, permisi gw mau lewat". Pinta Suro sambil melangkah.
"mas, kami memang belum tau pemuda itu. Yang tau cuma adik saya, dia lagi terbaring kesakitan dirumah". Jelasnya dengan menghalau Suro dan Soti.
"kalau mas bukan pemuda yang kami maksud. Mas bersedia ikut saya ke tempat adik saya". Pintanya memojokan Suro. "cuma memastikan saja mas. Dari tadi saya tidak melihat ada pemuda lain selain mas-mas ini". Tegasnya meyakinkan Suro.
"kalau memang adik saya tidak mengenali mas-mas ini. Berarti memang bukan kalian yang saya cari" tambahnya.
"siapa takut" jawab Suro tegas. Demi membela harga dirinya ia mengikuti permintaan pemuda tak dikenali itu.
"oya mas, dirumah sudah banyak warga yang menunggu, mereka semua dalam emosi besar. Jadi mas harus bersikap tenang yah. Jangan memancing amarah mereka. Sudah ada sebelum mas dan ternyata dia bukan pelakunya, namun sikapnya membuat para warga marah. Alhasil naas dia dikeroyok masa". Terangnya blak-blakan.
"untuk menghindari itu, mas titipkan saja barang-barang mas ke temen mas ini. Seperti handphone, dompet, dll. Biar temen mas nunggu disini sama temen saya ini". Pinta pemuda itu kepada Suro.
Satu pemuda itu dan Suro pun pergi. Setelah sebelumnya Suro telah menitipkan dompet dan HPnya ke Soti sesuai anjuran Si Pemuda malang tersebut. Sedang Soti dan pemuda satunya lagi hanya menunggu mereka.
Suro hanya diam. Dalam perjalanan ia terus memikirkan insiden yang tengah ia alami. Tanpa ada pikiran negatif. Hanya sikap bijak yang ia tangguhkah sebagai tanggung bukti atas tuduhannya itu.
Di tengah perjalanan Si pemuda berhenti sejenak. Ia minta ijin untuk buang air kecil sebentar. Suro mengiyakan. Dan pemuda itu pergi meninggalkan Suro untuk mencari tempat sepi untuk hajatnya.
***
Soti menanti-nanti. Harap-harap cemas akan hal-hal yang tak diinginkan menimpa Suro.
30 menit kemudian pemuda berkendara motor itu kembali.
"Temen gw mana?" tanya Soti menyambut kedatangan pemuda tersebut yang datang seorang diri.
"temenmu masih dirumah saya. Sengaja aku tinggal. Adik saya ingin melihatmu juga". Jelasnya kepada Soti.
Setelah berbincang-bincang. Soti dibonceng pemuda itu. Menuju tempat adiknya serta menjemput temanya, Suro.
"oya tadi temen lo pesen. Suruh jagain tuh HP dan Dompetnya". Sela pemuda itu di tengah perjalanan. "mending lo titipin aja entar sebelum sampai rumah gw. Di belakang rumah gw ada warung kecil. Lo titipin aja kesitu. Gw udah ngomong sebelumnya. Daripada lo kenapa-napa nantinya". Saran Pemuda itu dengan meyakinkanya.
***
"Lama banget sih, tuh orang. Kencing batu kali yah" gusarnya Suro dalam penantian.
"sudah hampir satu jam tapi gak ada batang hidungnya". Suro semakin panik.
"kurang ajar nih, gw kaya sudah ditipu mentah-mentah". Suro menyadari dirinya tengah tertipu. Ia segera balik.
Tak menghiraukan pemuda itu yang sedang kencing entah dimana. Sesegera mungkin ia menjemput Soti. "pasti ada apa-apa nih dengan Soti". Umpatnya dalam hati sambil berlari.
***
"kamu tunggu disini yah. Saya akan titipkan ke warung itu". Perintah dua pemuda itu kepada Soti dan pergi ke warung di seberang jalan.
Soti melihat mereka masuk ke Warung di Seberang. Ia memperhatikanny a secara teliti. Tidak ada perasaan was-was di hatinya.
Soti merasa tak enak kala itu. Tak ubah-ubahnya mata Soti menelanjangi wajah warung di depanya.
"lama banget si, ngapain aja mereka" gusarnya menunggu yang tak keluar-keluar dari warung.
Dalam hati kecil Soti merasa ia tengah tertipu. Namun ia tepiskan jauh-jauh pikiran negatifnya itu. Merasa memiliki tanggung jawab akan harta temanya itu. Ia urungkan niat untuk beranjak pergi. Meski prasangka buruk itu lebih condong dalam pikiranya.
"lho ko tutup" Soti terkejut warung yang ia perhatikan sedari tadi sudah akan tutup.
"permisi bu" sapa Soti kepada ibu pemilik warung yang tengah menutup rapat lapaknya.
"ada apa mas" sahut ibu warung itu.
"ibu tau pemuda yang masuk sini sejam yang lalu?" tanyanya
"pemuda yang mana mas. Banyak yang kemari. Ibu gak hafal satu-satu". Jawabnya heran.
"dia bilang rumahnya dibelakang warung ibu. Tadi dia masuk mau nitipin hp saya ke ibu". Jelas Soti melemah suaranya.
"dibelakang warung ibu memang ada pemuda. Tapi dia gak pernah kesini. Apalagi sejam yang lalu". Terangnya.
Soti merasa benar-benar kena tipu. Mendengar jawaban ibu warung yang tak tau apa-apa.
"yaudah bu. Permisi"
Soti mulai menyadari sepenuhnya. Ia tengah tertipu mentah-mentah. Rasa bersalah yang hebat menikam tajam batinya. Atas kelengahan menjaga amanat temanya.
Ia bergegas kembali ke persimpangan jalan dimana ia terpisah dengan Suro.
***
"brengsek. . . . " teriak Suro saat tiba di persimpangan. Tak ada Soti, tak ada pemuda satunya lagi.
"pasti nih Soti sudah dijebaknya. Duuuh HP dan Dompet gw...". Sadarnya.
Suro segera balik ke rumah. Sampai rumah ditanyakan semua teman-temanya.
"pada ngeliat Soti gak?" tanyanya pada temen kerjanya yang tengah asik nonton Bola.
"bukanya tadi bareng lo!" jawab salah seorang teman yang melihat mereka saat berangkatnya tadi.
Suro menerangkan kejadian yang menimpanya itu dengan panjang lebar. Dan mereka ahirnya langsung pergi mencari Soti.
Sudah jam 1 malam, Soti tak nampak juga. Ramai-ramai Suro dan kawan-kawanya terus mencari Soti.
***
"Apeeeees. . . . Apeeeees". "Brengseeeek". Teriak Soti dengan suara lantang di tengah jalan yang sudah sepi.
Soti melihat kawan-kawannya di penghujung jalan. Dan Suro juga ada di situ juga.
"itu bukanya Suro, kok sama temen-temen sih" Soti membatin.
Langkahnya sengaja ia percepat. Meski sangat lelah baginya kala itu. Yang tak mampu lagi untuk berlari.
Salah seorang yang tengah menengok ke belakang. Melihat Soti yang tengah kelelahan dalam langkah lunglai. Bergegas mereka berlarian menghampiri Soti.
"Soti, kamu gak apa-apa?" pertanyaan beruntun itu menimpa pendengaran Soti yang tengah melemah karena lelahnya.
Dirangkulnya Soti bareng-bareng oleh kawanya. Segera mereka balik kerumah.
Setelah sampai di rumah barulah Soti menjelaskan semua yang ia alami.
Suro yang iba melihat expresi Soti kala itu, tak tega menanyakan HP dan Dompetnya.
Soti yang merasa bersalah terhadap Suro, ia menjelaskan kepada Suro sedetail mungkin. Suro dan Soti menyadari. Yang menimpa mereka itu bukanlah kesalahan masing-masing. Mereka tak saling menyalahkan. Dan mengikhlaskan semua yang telah raib.
THE END.
Penulis
Sultan Faranaza
Cerpen lain di
www.csfaranaza.blogspot.com

Penulis Sultan Faranaza
Minggu, 16 September 2012
Perjalanan Hidup di Jakarta
Sebuah pengalaman
yang sampai saat ini tak bisa terlupakan, sampai ahirnya saya tuangkan
dalam buku kecil sahabat tidurku. Pengalaman ini terjadi pada tahun
2008.Nama saya Sultan Faranaza, biasa dipanggil Kuda. Saya orang jawa tulen, kota saya Tegal. Tapi hidup saya di rantauan, sejak lulus SMP tahun 2006 saya langsung merantau.
Al-kisah waktu saya kerja di Jakarta. Waktu itu usia saya masih 18+. Sebelumnya saya sudah pernah bekerja di Kota Besar di Bekasi selama 2 tahun. Saya bekerja di sebuah pembangunan perumahan alias proyek, saya di bagian pengecatan. Namanya saja proyek pasti sudah tau bagaimana ciri khas orang proyek. Warna kulit saya dulunya putih sekarang cokelat, tinggi badan saya sekitar 155cm. Tinggi yang terlalu minim untuk anak seusiaku, namun tampang saya terbilang awet muda. Karena wajah saya masih kaya anak-anak, gak sebanding dengan usia saya. Itulah gambaran tentang saya. Selama 2 tahun saya lakoni pekerjaan itu sampai bisa mengecat dengan baik dan benar.
Suatu hari saya di panggil kaka ipar saya untuk bekerja di tempatnya. Tidak tau kerja apa saya langsung iya aja jawabnya. Yang penting kerja.
Angin bertiup kencang, rasa dingin menghantam ke tulang-tulang. Saat waktu mulai pagi, saat itu pukul 4 dini hari saya sampai di Jakarta, setelah semalaman di dalam Bus antar Propinsi. Rasa kantuk terus hinggap di mataku, namun hidangan teh panas yang disediakan oleh kaka saya menghapuskan lelah kantuk saya, dengan suguhan penganan yang saya bawa dari Tegal, oleh-oleh dari ibu untuk kaka saya membuat saya mampu menahan kantuk. Sembari menunggu pagi kami ngobrol-ngobrol tentang pengalaman-pengalaman mereka. Di kontrakan bukan hanya kaka saya, tapi ada adik dari kaka ipar saya, sebut saja Riki (samaran) ada juga satu lagi Jeki (samaran) teman kaka saya. Karena mereka baru saya kenali, maka saya belum bisa menyesuaikan diri. Saya ini pendiam dan pemalu, jadi kalau mereka tanya-tanya yah saya hanya senyum, dan ngomong pun lirih banget.
Ternyata si Jaki punya kerjaan di luaran sana, dia punya job sendiri diluar kerjaanya yang tidak bisa ditangani sendiri. Ahirnya saya disuruh untuk mengerjakanya bersama si Riki.
Saya dan Riki berangkat berdua ke lokasi, tepatnya di sebuah gedung besar di Jakarta, yaitu Apartement Kuningan Place. Yah sebuah gedung yang menjadi sejarah penting saya di Jakarta. Saya dan Riki masuk berdua, menuju keatas karena lokasi kerjaan ada di lantai 21. "Wah indah sekali pemandangan kota Jakarta dari atas gedung, tak kusangka saya bisa melihat Jakarta dari atas" begitu gumam saya dalam hati, ketika saya melirik dari arah jendela sebuah kamar tempat saya kerja nanti. Riki ternyata tidak bisa kerja, dia punya kerjaan sendiri jadi dia hanya bisa kerja di hari libur. Dan dia hanya antar jemput saya tiap hari.
Waktu terus jalan, Riki pun keluar dan saya pun sudah mulai bekerja seperti apa yang ditugaskanya, tanpa ada masalah sampai sore Riki datang untuk menjemput saya dan pulang bareng ke kontrakan.
Keesokan harinya, seperti biasa saya dan Riki berangkat berdua, lumayan jauh juga karena kontrakan tempat saya berada di Kota Kembangan Jakarta Barat. Butuh waktu sekitar 1 jam lebih dengan Motor jika jalanan tidak macet. Keadaan pun seperti biasa, setelah sampai di Apartement Riki hanya mengantar sekaligus mengecek kerjaan saya. Setelahnya dia keluar lagi untuk kerja di tempatnya sendiri. Tanpa basa-basi saya langsung siaga bekerja. Sampai sore tiba saya sudah siap beres-beres untuk pulang. Tapi Riki agak terlambat, saya keluar untuk sekedar ngopi dan ngerokok sambil menunggu Riki datang. Tidak berpikir macam-macam saya tetap saja menikmati kopi saya. Sampai hari mulai menunjukan petang rasa cemas mulai menghantam perasaan. "Kemana si Riki yah, ko gak dateng-dateng" gumamku. Tepat jam 6 sore Riki tidak datang juga, saya pun berjalan sedikit memperhatikan setiap motor yang lewat berharap Riki ada disini. Namun semakin jauh saya melangkah tak pula kulihat ada tanda-tanda kedatanganya.
Dengan langkah putus asa, saya terus melangkah semakin jauh dan jauh namun saya tetap berharap mata saya akan segera melihat sosok Riki dijalan.
Langkah demi langkah, terus saya telusuri jalanan tanpa tau arah kemana yang harus saya tuju. Waktu pun semakin menunjukan malam, keadaan jalanan mulai sunyi. Sudah tak nampak lagi adanya kehidupan, kecuali terkadang adanya mobil yang sesekali lewat. Hati kesal bercampur sesal, pada sosok bernama Riki. Entah kenapa hanya dia yang saya pikirkan, saat itupun dia menjadi orang pertama yang saya cari-cari sekaligus orang yang paling saya benci. "Seandainya dia datang tepat waktu, seandainya saya masih sabar menunggu". Sesal dan kesal terus berkecamuk dalam pikiran mengiringi derap langkah saya yang semakin berat itu. Tiada henti langkah saya tiada henti pula pikiran saya menggerogoti penyesalan. Sampai pada puncak lelahnya saya pun berhenti sejenak pada sebuah halte bus yang sudah tak ada seorangpun disitu.
Sekitar pukul 2 dini hari saya duduk seorang diri. Sampai saya pun ahirnya tertidur di halte tersebut. Dan terbangun kembali jam 5 subuh karena suara mobil yang mulai meramaikan jalanan. "Yah ini bukanlah mimpi, ini benar-benar terjadi" sesalku saat tersadar saya seorang diri. Saya bergegas kembali menyusuri jalanan nan sepi ini, dengan langkah lusuh penuh peluh dan hati yang terus menjerit seakan tak mempercayai akan terjadi hal seperti ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hari mulai terang saat saya tetap berjalan di sudut aspal jalan. Hujan turun dengan lebatnya, dan saya terus berjalan dan berjalan tanpa menghiraukan rasa dingin yang menerpa saya, sampai saya menemukan sebuah halte di samping jalan dan berteduh sejenak dengan baju yang basah. Saya pun tertidur lagi di halte tersebut. Ketika saya terbangun hujan sudah mulai reda, saya segera melanjutkan perjalanan jauh itu. Melihat kanan kiri tiada yang peduli keadaan saya. Yah mungkin tiada yang tau apa yang saya alami.
Jauh semakin jauh, lelah semakin lelah tapi semua terjawab saat saya mulai mengenali jalan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. "Yah inilah jalan menuju pulang" dengan girang saya terus berjalan semakin cepat semakin cepat dan cepat, tak jarang saya berlari sekedar mempersingkat waktu.
Dan ahirnya saya pun sampai pada tujuan saya, kontrakan yang saya tempati. Sekitar pukul 11 siang saya sampai ke kontrakan. Rasa lelah semakin memaksa saya segera cepat-cepat beristirahat, dengan mata yang masih mengantuk yang semakin menjadi-jadi. Saya ketuk pintu, saat itu juga. Namun tak ada sahutan dari dalam. Perasaan saya gak enak banget, saya ketuk lagi dan tetap tak ada jawaban. Saya hanya melamun di teras depan kontrakan memikirkan nasib naas ini. Dalam lamunan terdengar suara Adzan berkumandang, saya pun putuskan pergi ke Masjid untuk shalat. Sehabis shalat dluhur saya tertidur di Masjid tersebut sampai sore hari. Dengan kaget saya dibangunkan seorang lelaki tua di Masjid. Saya segera ambil wudlu dan shalat Ashar. Sehabis Shalat saya segera kembali ke kontrakan dengan semangatnya. Namun kontrakan masih saja sepi. Tak terlihat adanya seorangpun didalamnya saat ku intip dari jendela yang tertutup tirai gordyn yang sedikit terbuka. Saya tetap duduk didepan teras, menunggu sampai semua orang kontrakan pulang dari kerjanya. Sampai pukul 7 malam baru mulai kelihatan si Jeki, disusul si Riki selang beberapa menit lalu kaka saya. Mereka semua kaget melihat saya duduk di teras. Dengan segera mereka membuka kunci dan masuk, di ikuti saya pun langsung masuk dan merebahkan tubuh saya di lantai beralaskan kasur lantai. Saya hanya diam, mereka saling tanya, "kemana saja kamu" namun saya tak angkat bicara. Mereka saling menunjukan kekhawatirannya masing-masing. Saya hanya bisa diam, dengan kekhawatiranya saja sudah cukup membuat saya senang. Sampai saya terharu sendiri melihat raut wajah mereka. Saking terharunya sampai-sampai saya meneteskan air mata. Karena malu takut ketahuan saya menangis, ahirnya saya pura-pura tidur. Dan malah tidur beneran dengan nyenyak. Keesokan harinya keadaan sudah kembali normal seperti biasanya. Saya pun melanjutkan kerja dengan Riki. Pergi berangkat berdua seperti biasa, pulang pun berdua seperti biasa. Riki pun semakin lebih memperhatikan saya.
"Malu Bertanya Sesat Dijalan" itulah bahasa yang tepat untuk saya waktu itu. Semenjak itu saya mulai mencoba mengurangi sikap pemalu dan pendiam saya. Itulah sepenggal pengalaman saya ketika pertama di Jakarta. Sebuah pengalaman yang takan terlupakan untuk saya.
Maafkan segala tulisan saya jika ada yang tak cocok atau tak mudah untuk dipahami.
Sampai jumpa lagi di Pengalaman saya yang lain.
By. Sultan Faranaza
Jumat, 03 Agustus 2012
Gadis PKBM
KISAH PKBM KU
Dering hp terdengar keras memanggilku tuk segera angkat telpon. "Siapa yah" pikirku melihat nomor tanpa nama memanggilku. Segera ku beri salam, oh ternyata teman lama semasa sekolah. Tanya-tanya soal kabar sembari kegiatan apa yang aku sibukan sekarang, aku hanya tersenyum menutupi pekerjaanku. Tak ingin mereka tau tentangku. Terbayang dalam pikirku betapa senangnya mereka-mereka yang tengah menguasai berbagai pekerjaan dan tak sedikit yang menjadi kepercayaan orang-orang besar atau bos-bos besar mereka. Khayalku mengapa ku tak mampu padahal kecerdasanku tak terlalu minus untuk maju. Aku teringat akan sepupuku dulu pernah mengikuti sekolah lanjutan menengah atas, namun kesenangan dalam bekerja membuat dia lalai dan melupakan kegiatan belajar itu. Langsung saja aku tanyakan sama om aku (bapak sepupuku), dimana sepupuku dulu belajar dan apa syarat-syaratnya. Dengan info yang agak kurang jelas dari om aku karena memang sudah teramat lama saat sepupuku belajar mungkin 5 tahun lalu, aku coba ingat-ingat alamatnya dalam memory otakku.
Juli itu dua hari sebelum ulang tahunku. Aku pulang ke kampung halamanku dari Jakarta. Aku utarakan benakku tuk lanjutkan sekolahku yang putus, sama mamaku. Alhamdulillah mamaku mendukungku. Tak mengulur waktu aku segera mencari alamat yang di berikan om aku. "Waduuuh.... Ramai sekali disini", gumamku menemukan tempat yang kumaksud dari kejauhan. Berhenti sejenak berpikir kembali tuk bulatkan tekat itu. Sempat balik lagi saat ku tau seramai ini, namun tengah jalan ku putar kembali ke lokasi. Yah tulisan PKBM terpampang besar di depan menempel di bagian atas gerbang. Aku tak terlalu berani karena aku pemalu, aku masuk sebuah warung deket situ sekedar minum kopi tuk sejenak berpikir. Sembari meneguk secangkir kopi aku bertanya-tanya pada pemilik warung tentang sekolah itu. Sempat aku minta untuk didaftarkan, dengan senyum-senyum malu aku utarakan sama pemilik warung tersebut. Si pemilik warung hanya tersenyum sembari menyemangatiku. Sekelebat ku melihat seorang cewe yang mungkin juga bakal murid disini. Tak begitu cantik tak begitu jelek pula biasa-biasa saja namun entah apa yang membuatku seketika menjadi anak pemberani (tak malu-malu tuk maju) tuk daftarkan diri di PKBM ini. Tuntas sudah pendaftaranku kembali menjenguk warung menengok kopiku yang belum dingin tuk segera di larutkan dalam tenggorokanku sambil merogoh disaku ku bayar dan pulang dengan hati tentram. Esok hari mulailah ku sibukan kegiatan jam 5 soreku dengan mengikuti jenjang pendidilan susulan alias PKBM (orang-orang bilang kejar paket). Jauh berbeda dengan sekolahku dulu yang memakai seragam lengkap dengan sepatunya. Disini ku sempet tertawa kecil dalam hati, melihat beberapa murid ada yang pakai sarung, pakai kolor. Tak ku lihat siapa cewe yang ku pandang saat pertama kali kesini, "mungkin dia hanya lewat waktu itu" pikirku. Waktu berlalu begitu saja hari kedua ku mulai terbiasa kegiatan baruku rutin 4x seminggu.
Terdengar sapaan hai di telingaku ku tengok agak asing tak ku lihat wajah ini kemarin. Yah sebut saja dia IHYA, ternyata baru saja daftar disini. Akulah orang pertama yang dikenalnya disini dan jadi teman baik sampai sekarang, lama berbincang kita masuk diikuti sang Tutor (Guru) dan pelajaran pertamapun dimulai. "Huft membosankan ternyata" gumamku sembari melirik-lirik sekeliling ruang kelas, nampak sudah cewe yang pernah kulihat pertama. "Wah ternyata dia juga murid disini, sekelas pula" dalam hatiku berkata. Sempat ku tancap kaki ini menuju kursi duduknya yang agak jauh dia didepan aku dibelakang, ku coba memperkenalkan diriku, belum terdengar sahutanya ku tanyakan rumah tinggal dia namun tak terjawab sepatah katapun untukku. Hanya terlihat lirikan matanya yang tajam penuh acuhan, seakan enggan mengenalku. Rasa malu itu kambuh lagi, kembali ku ke tempat dudukku dengan hati kesal akan kegagalan dalam perkenalan. Akupun terfokuskan buku pelajaranku di meja belajarku tanpa menoleh kanan kiriku meski tak jarang aku memandangnya sesekali. Hari H telah tiba aku kembali ke Jakarta untuk melanjutkan kegiatanku sehari-hari yang penuh penat. Untunglah hari terakhir sebelum keberangkatanku, aku telah dapatkan nomor telepon salah satu murid PKBM, agar tak ketinggalan pelajaran selama aku di Jakarta. Aku pintai semua nomor murid di PKBM, tak sedikit aku di berinya mungkin separuh murid di kelasku aku memiliki nomornya namun hanya beberapa saja yang ku kenal secara pasti. Karena hanya seminggu aku rutin saat itu, akupun belum mengenali satu persatu. Lewat nomor telpon aku kenali satu persatu hingga keakraban terjalin sesama murid meski aku belum tepat menebaknya satu-satu, setidaknya sudah kenal.
Sebut saja dia Ratu (nama disamarkan). Aku lebih sering komunikasi denganya meski belum tau pasti yang mana dia dikelas. Hampir setiap hari aku sms, tak jarang dia yang memulai percakapan via sms. Yang lain tak terlalu sering hanya sekedar tanya kabar. Dengan sms hubungan kita terasa semakin akrab saja sampai sering kali kita saling curhat bukan hanya tentang pelajaran namun tentang asmara pun kita tak malu-malu
tuk mencurahkan manis pahitnya. Sampai muncul rasa ibaku saat dituturkanya kisah terpahitnya. Dari ibaku timbul rasa yang lebih, untuknya. Sampai-sampai aku belikan kartu perdana baru untuk bisa mendengar suaranya karena operator kita berbeda hingga komunikasi kita hanya sekedar sms. Komunikasi kami pun terjaga hingga ahirnya aku pun telah lama di Jakarta dan harus pulang kampung kembali. Seperti biasa karena dikampung aku tetap melakukan rutinitas jam 5 soreku di PKBM. Dengan rasa penasaran yang lumayan Guede aku bergegas melaju ke PKBM untuk mengenal siapakah Ratu itu. SMS ku kirim padanya menegaskan kepulanganku dari Jakarta.
Sembari mengucap salam akan jumpa di PKBM. Masya Allah selama ini yang sms aku tiap hari tak lain adalah cewe yang pertama ku lihat di PKBM pertama kalinya. Tak pikir panjang aku hampiri dan sapa dia, jauh berbeda dari sebelumnya. Kini dia menjawab Tidak ditemukan hasil untuk sapaanku. Hehehe jelas saja dia sudah tau aku sebelumnya via sms. Kedekatan itu terjalin kuat sampai ku pun kembali ke Jakarta setelah seminggu di kampung. Jujur saja aku menyayanginya namun belum sempat ku utarakan, aku takut kedekatan itu akan hilang hanya karena aku menyayanginya. Ku simpan saja dalam-dalam dalam hati, berharap akan ada waktu yang tepat untuk mengungkapkanya. Seperti biasa hari-hariku dihiasi percakapanku denganya via sms. Berlangsung terus-menerus. Sampai suatu hari percakapan itu terhenti entah apa sebab musababnya. Aku pun sempat bertanya-tanya ada apa gerangan padanya, tak jarang ku coba awali dengan smsku, namun tak sering dia membalas smsku, hanya sesekali saja, smsnya pun seakan terlihat cuek. Hanya secukupnya saja untuk menjawab. Itu berlangsung lama dan sampai kami pun sudah hilang komunikasi sama sekali. Hari-hari tak lagi ada sms darinya. Kembali seperti dulu bekerja dan hanya bekerja tanpa hias. Hari Raya telah tiba, kini kepulanganku agak lama, aku sebulan penuh dirumah, dan rutinitasku pun terjaga di setiap soreku. Ku lihat dia dibalik pintu kelas sedang duduk terpaku memandangi buku-buku di depanya. Aku mendekat menyapa dan bertanya-tanya kabar. Entah apa yang terjadi ia kembali seperti saat pertama ku mengenalnya, cuek tiada tara.
Sudahlah, , , aku tak berpikir panjang soal itu. Ku jalani hariku tanpa berpikir macam-macam denganya. Aku abaikan semuanya. Kini ku hanya fokus sama pelajaran. Tiba-tiba saja di sms aku, agak girang ke'G-R'an aku sms darinya kembali masuk. Kita bercakap belum lama dia menanyakan nama seseorang yang tak lain adalah teman sekelasku, agak kesal si sms itu. "Kenapa dia nanya gitu yah" umpatku dalam hati. Udahlah aku jawab aja apa yang ku tau saja, percakapan itu terhenti setelah dia tau tentangnya dariku, dan terhenti untuk selamanya. Dengan akhir kata darinya "jangan bilang-bilang padanya kalau aku tanya-tanya tentangnya". Yah. . . Aku masih ingat terus kata-kata itu hingga sekarang.
Sekarang entah apa yang terjadi padanya, setiap kali aku di kampung dan berangkat PKBM tak pernah aku melihatnya, meski belum mengundurkan diri dari PKBM kata teman-temanya. Sejak saat itu tak pernah lagi ada komunikasi. Seakan hilang begitu saja. Namun sempat ku menyapa dalam sms, namun jawabanya tak pernah ku dapat, sesekali dia menjawab namun dia tak tau siapa aku. Oke lah mungkin nomorku telah dihapus karna tak berkabar lama. Namun setiap aku tegaskan siapa aku, tak lagi dia mau membalasnya sesekali dia balas dengan kata-kata yang pedih "jangan sms atau telpon aku lagi". Itulah ucapan dia setiap aku sms dia. Bingung bercampur kesal terus menertawaiku dalam pikiran. Aku terus berpikir dan terus berpikir apa yang terjadi padanya. Padahal belum sempat aku ungkapkan perasaanku sesungguhnya padanya. Dalam sesalku aku terus memarahi diriku sendiri andai saja dulu ku utarakan saja mungkin takan seperti ini. Hilang tanpa bekas, tanpa kenangan, dan tanpa kebenaran yang kudapat.
Kini aku terus berdoa dan berharap suatu saat aku temukan kejanggalan antara kita dan dapat kembali keakraban seperti dulu. Kisah ini aku alami sendiri tanpa rekayasa. Mungkin salah satu teman yang baca ini tahu siapa Ratu yang ku maksud.
Salam Kuda. Sultan Faranaza
Berkah Sedekah
![]() |
IKHLAS HATI |
Masih terlalu dingin rasanya udara yang menyapu jalanan lalu lalang menemani derap langkahku menuju tempat tunggu bis yang akan aku naiki. Dari belakang terdengar suara wanita tua memanggilku. Sejenak aku berhenti dan menoleh kebelakang. Terlihat sosok wanita tua dengan anak kecil digandengnya dengan pakaian lusuh, dekil, dan agak bau (mungkin belum mandi) melambai ke arahku sambil menghampiriku si ibu itu menyapaku
ibu : "maaf nak, boleh ibu minta tolong tidak?"
aku: "mmm. . . Minta tolong apa yah?"
ibu : "begini nak, ibu tidak punya uang! Ibu boleh minta uang tidak, sekedar buat beli bubur saja!"
Aku bingung mau jawab apa, sedangkan aku sendiri hanya pegang duit 15rb. Untuk ongkos PP saja 8rb, sisanya buat makan siang.
aku: "Maaf banget ya bu, saya tidak punya uang"
ibu : "ya sudah, maaf yah nak sudah mengganggu"
aku: "yah" sambil berlalu jalan meninggalkan si ibu tua itu.
Aku sempat berpikir, "sungguh kejam aku ini" belum jauh berjalan aku melihat tukang bubur dijalan. Ku tengok ibu sudah mulai jauh berjalan. Tanpa pikir panjang aku mampir ke tukang bubur, pesen satu porsi. "cepetan bang, dah telat nih" pintaku agar lebih cepat membuat buburnya, ku lihat ibu itu sudah semakin jauh. "sabar ya," dan "ini mas, Rp6.000,- mas". Langsung saya kejar ibu itu dan ku berikan bubur yang kubeli untuk anaknya si ibu itu.
aku: "bu. . .bu. . . Tunggu bu". Sambil berlari aku memanggilnya"
ibu : "ya nak, ada apa"
aku: "ini bu, bubur buat si ade, maaf yah bu tadi aku bilang tidak punya uang"
ibu : "terima kasih nak, yah gak papa nak, terima kasih banyak sudah repot-repot belikan bubur.
Semoga Allah membalas kebaikan mas. Amiin".
aku: "sama-sama bu, ya sudah bu aku tinggal yah"
ibu : "iya nak"
Sambil jalan aku meninggalkan si ibu dan anak itu, tiba-tiba aku menangis. Entah kenapa mengingat wajah gembira ibu itu sambil mendoakanku, aku meneteskan air mataku. Aku begitu terharu mengingat kejadian itu.
Sudahlah aku lupakan, nampaknya sudah ada bis yang menunggu. Langsung saja aku naik. Pikiranku kosong selama di bis sampai-sampai tak sadar sudah sampai tujuan. Aku tiba lebih awal dari temanku, langsung aku kerja seperti biasa sambil menunggu temanku datang.
Tiba-tiba kakaku yang di bekasi meneleponku, menyuruhku untuk mampir kerumahnya. Tidak tau ada apa gerangan kakaku menyuruhku kerumah. Aku bingung, ongkos darimana. "Ya Insya Allah aku mampir pulangnya" jawabku sambil menutup telepon.
Terpaksa siangnya aku break eat, biar cukup untuk ongkos ke Bekasi. Sorenya saya berpisah lagi dengan temanku, sekarang giliran temanku yang pulang ke Sunter dan aku mampir ke kakaku.
Esok hari aku berangkat dari Bekasi pagi-pagi. Lumayan jauh jadi agak siang nyampe ke tempat kerja. Pas sampai ke tempat kerja, seperti biasa aku datang lebih awal. Yah... Temanku emang kesiangan mulu berangkatnya, makanya meskipun aku telat juga datengnya tetep paling awal.
Temanku datang sambil bawain kopi, "wahhh. . . . Mantap tau aja lo yah" ejekku sambil menyambut kopi hangat bungkusan dari teman. Sambil ngopi temanku bilang
temanku: "untung lo ke Bekasi"
aku : "kenapa emang?"
temanku: "lo liat aja tuh HP gw, rusak, ancur!"
aku : "ko bisa ancur gini"
temanku: "kemaren pas pulang, bis yang gw tumpangin exis di jalanan"
aku : "exis gimana maksudnya"
temanku: "yah exis, kecelakaan maksudnya. Gilaaaa ngejar dua bis ampe gak ngeliat ada tanjakan.
Ya udah terbang dah bis yang gw tumpangin"
aku : "terus gimana? Lo gak papa!"
temanku: "gw si gak papa, tapi hp gw tuh jadi ancur. Untungnya si gak sampe jatuh bisnya, cuma
terbangnya doang yang tinggi sampe2 pendaratanya bikin penumpang pada tumpah
semua termasuk gw. Gw dah jatuh ketimpa penumpang yang lain lagi, dua lagi
sekaligus, pas hp gw ke injek lutut" gw, yah ancur dah jadinya.
aku : "kasian amat lo"
temenku: "huuuw. . . Dasar lo, temen sengsara malah di kasianin. , pijitin sini, pegel-pegel semua
tau badan gw"
aku : "ya udah sini gw pijitin biar tambah pegel" sambil ketawa dikit, , , kita lanjutkan kerja
masing-masing.
Aku teringat kejadian sebelumnya. Mungkin gara-gara doa si ibu yang aku beri bubur itu lah yang menghindarkanku dari bahaya. Subhanallah. . . Sampai-sampai tak kuasa aku menahan air mata, teringat akan raut wajah ibu dan anak itu. Betapa mulianya dia mendoakanku, aku sendiri tidak pernah berdoa untuk keselamatanku sendiri. Dari kejadian itu aku mulai membuka hati dan menjalani apa yang menjadi kewajibanku sebagai Hamba Allah.
Pesan Moral dari Saya: Berapapun nilainya, ikhlaskan untuk beramal niscaya bermanfaat.
Cerita ini nyata terjadi pada tanggal 30 juni 2012.
THE END
Langganan:
Postingan (Atom)

